Bagaimana Komunitas Muslim Kolombia Merayakan Ramadhan?
Sururi al faruq
Senin, 23 Februari 2026 - 08:14 WIB
Bagaimana Komunitas Muslim Kolombia Merayakan Ramadhan?
LANGIT7.ID- Kolombia; Ziauddin Yahya Iqbal Sandoval, yang akrab disapa Zia, menjalani ibadah Ramadan dengan keyakinan yang khusyuk.
Remaja berusia 14 tahun ini lahir dan besar di Kolombia, di mana agama Kristen tetap dominan. Hampir 63 persen populasi teridentifikasi sebagai Katolik, sementara Muslim kurang dari 0,2 persen populasi negara.
Namun, di dalam komunitas kecil ini, terdapat beragam latar belakang dan pengalaman. Beberapa Muslim Kolombia mencerminkan sejarah migrasi yang kaya ke kawasan ini. Selebihnya adalah para mualaf.
"Komunitas Islam Kolombia memang kecil, tetapi justru lebih kaya karena keragamannya," kata Zia, saat beristirahat sejenak dari melayani teh di restoran pamannya, Zaheer, di lingkungan Poblado yang elit di Medellin.
Menjelang bulan suci, komunitas Muslim di kota-kota seperti Bogota dan Medellin bersiap menyambut perayaan dengan dekorasi dan doa.
Huruf-huruf keemasan dan berkilau membentuk ucapan "Ramadan Karim" — atau "Ramadan yang Penuh Kemurahan Hati" — di atas sebuah masjid sederhana di Belen, pinggiran kota Medellin.
Di dalam masjid, sepatu-sepatu tersusun rapi di sepanjang dinding. Di ruang shalat kecil berbentuk persegi, sekitar delapan pria dari berbagai usia dan kebangsaan berdiri berjejer, rukuk dengan kompak.
Remaja berusia 14 tahun ini lahir dan besar di Kolombia, di mana agama Kristen tetap dominan. Hampir 63 persen populasi teridentifikasi sebagai Katolik, sementara Muslim kurang dari 0,2 persen populasi negara.
Namun, di dalam komunitas kecil ini, terdapat beragam latar belakang dan pengalaman. Beberapa Muslim Kolombia mencerminkan sejarah migrasi yang kaya ke kawasan ini. Selebihnya adalah para mualaf.
"Komunitas Islam Kolombia memang kecil, tetapi justru lebih kaya karena keragamannya," kata Zia, saat beristirahat sejenak dari melayani teh di restoran pamannya, Zaheer, di lingkungan Poblado yang elit di Medellin.
Menjelang bulan suci, komunitas Muslim di kota-kota seperti Bogota dan Medellin bersiap menyambut perayaan dengan dekorasi dan doa.
Huruf-huruf keemasan dan berkilau membentuk ucapan "Ramadan Karim" — atau "Ramadan yang Penuh Kemurahan Hati" — di atas sebuah masjid sederhana di Belen, pinggiran kota Medellin.
Di dalam masjid, sepatu-sepatu tersusun rapi di sepanjang dinding. Di ruang shalat kecil berbentuk persegi, sekitar delapan pria dari berbagai usia dan kebangsaan berdiri berjejer, rukuk dengan kompak.