LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Agama mulai menyiapkan langkah lanjutan untuk memperluas pengembangan masjid ramah lingkungan berbasis energi terbarukan. Salah satu fokusnya ialah mendata masjid yang telah memasang panel surya sebagai dasar penyusunan model eco-masjid yang nantinya dapat diterapkan di berbagai daerah.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat mengatakan pendataan tersebut menjadi bagian penting agar pengembangan masjid ramah lingkungan dapat dilakukan secara lebih luas.
"Kami akan mencoba melakukan pendataan terhadap masjid-masjid yang telah menerapkan panel surya ini. Data tersebut akan menjadi dasar dalam mengembangkan model eco-masjid yang dapat direplikasi di berbagai daerah sehingga semakin banyak masjid yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan," kata Arsad dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).
Langkah itu menjadi bagian dari sinergi Kementerian Agama dengan Muslim Association for Islamic Climate Action (MOSAIC) dalam mengembangkan masjid ramah lingkungan berbasis energi terbarukan. Program tersebut sebelumnya telah diterapkan di enam masjid di berbagai daerah dan pada tahun ini diperluas ke tiga masjid di Aceh, Sumatera Utara, dan Jawa Barat.
Saat membuka pertemuan dengan jajaran MOSAIC di Jakarta, Rabu (22/7/2026), Arsad menyampaikan bahwa pemanfaatan energi terbarukan di masjid sejalan dengan program ekoteologi Kementerian Agama sekaligus memberikan manfaat berupa efisiensi energi dan penghematan biaya operasional.
"Kolaborasi dengan MOSAIC merupakan salah satu implementasi dari Protas Menag tentang Penguatan Ekoteologi," ujarnya.
Ia juga menegaskan, "Saya kira gerakan ini merupakan terobosan baru yang harus kita dukung."
Menurut Arsad, masjid memiliki peran strategis sebagai pelopor perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. Karena itu, pengembangan masjid ramah lingkungan perlu diperluas melalui kolaborasi berbagai pihak.
Sebagai tindak lanjut, Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah akan mendukung program melalui penguatan publikasi, edukasi masyarakat di media sosial, serta penyelenggaraan diskusi daring Insight Syariah bertema "Masjid Ramah Lingkungan Melalui Sedekah Energi untuk Umat".
Dari sisi pelaksana program, Direktur Program MOSAIC Aldy Permana menjelaskan organisasinya mengembangkan Program Sedekah Energi sebagai gerakan gotong royong untuk memasang PLTS di masjid sekaligus memberikan pelatihan energi terbarukan kepada pengurus masjid dan masyarakat.
"Program Sedekah Energi kami hadirkan sebagai bentuk gotong royong untuk memperluas pemanfaatan energi surya di masjid. Harapannya, masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung transisi energi bersih," ujar Aldy.
Ia menambahkan, pemanfaatan energi surya tidak hanya menyediakan sumber energi bersih, tetapi juga menekan biaya operasional masjid sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh jamaah. Melalui dukungan ribuan donatur, program tersebut juga meningkatkan kapasitas pengurus masjid melalui pelatihan serta berkontribusi mengurangi emisi karbon.
Aldy mengatakan, "Jika satu masjid dipasang PLTS atap berkapasitas lima kilowatt, maka dengan target ini umat Islam dapat berkontribusi sebesar satu juta kilowatt atau satu gigawatt terhadap target nasional 100 gigawatt."
Ke depan, Kementerian Agama dan MOSAIC akan menyusun panduan teknis implementasi PLTS di masjid, menggelar kampanye bersama mengenai energi surya, serta memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Langkah tersebut diharapkan memperluas kontribusi umat Islam dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat yang ramah lingkungan.
(lam)