Belajar dari Film Pendek "Sambung Silaturahmi"
Pentingnya Menjaga Lisan dan Adab Berkomunikasi Antar Tetangga
Tim langit 7
Selasa, 24 Februari 2026 - 12:24 WIB
Pentingnya Menjaga Lisan dan Adab Berkomunikasi Antar Tetangga
LANGIT7.ID-Jakarta; Gesekan sosial di lingkungan pemukiman acapkali dipicu oleh hal-hal sepele yang diperburuk oleh cara penyampaian yang kasar. Kurangnya adab dalam menegur atau menyampaikan keluhan sering kali menjadi bumbu penyedap bagi permusuhan jangka panjang. Realitas tentang mahalnya etika berkomunikasi ini dikritik dengan sangat natural dalam film pendek berjudul "Sambung Silaturahmi".
Ketidakharmonisan bertetangga tergambar jelas dari interaksi awal para tokohnya yang dipenuhi dengan nada tinggi dan keluhan. Tara, sang influencer, menegur Rio perihal suara bising blender secara langsung di teras kontrakan mereka yang bersebelahan, namun dengan nada yang ketus dan merendahkan. Di sudut lain, Bu Lina tanpa basa-basi langsung memarahi Rio persoalan letak tong sampah. Bahkan, sosok yang lebih tua seperti Pak Ali pun turut menyumbang hawa panas dengan mengomeli Tara terkait kekeliruan kurir paket secara kasar.
Baca juga:Keberkahan Rezeki Mengalir dari Niat Membahagiakan Ibu
Baca juga:Jangan Sampai Ambisi Duniawi Memutus Tali Persaudaraan
Rangkaian interaksi tersebut memperlihatkan sebuah lingkungan yang kering dari adab kesantunan. Masalah sebenarnya bukanlah pada mesin blender, letak keranjang sampah, atau paket yang salah alamat, melainkan pada ketiadaan hifdzul lisan (menjaga lisan). Ketidakmampuan mereka memilih diksi yang sopan dan keengganan untuk berbicara dari hati ke hati membuat suasana bertetangga menjadi sangat individualis dan penuh kecurigaan.
Dalam ajaran Islam, lisan ibarat pisau bermata dua yang bisa merajut ukhuwah sekaligus mencabik persaudaraan. Allah SWT sangat menaruh perhatian pada tata krama berbicara, bahkan menjadikannya sebagai salah satu pilar kebaikan sosial. Hal ini termaktub dalam pedoman Al-Qur'an: "serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" (QS. Al-Baqarah: 83). Ayat ini menuntut setiap muslim untuk selalu mengedepankan tutur kata yang lembut, apalagi kepada tetangga terdekat.
Baca juga:Bahaya Prasangka Buruk di Lingkungan Bertetangga
Ketidakharmonisan bertetangga tergambar jelas dari interaksi awal para tokohnya yang dipenuhi dengan nada tinggi dan keluhan. Tara, sang influencer, menegur Rio perihal suara bising blender secara langsung di teras kontrakan mereka yang bersebelahan, namun dengan nada yang ketus dan merendahkan. Di sudut lain, Bu Lina tanpa basa-basi langsung memarahi Rio persoalan letak tong sampah. Bahkan, sosok yang lebih tua seperti Pak Ali pun turut menyumbang hawa panas dengan mengomeli Tara terkait kekeliruan kurir paket secara kasar.
Baca juga:Keberkahan Rezeki Mengalir dari Niat Membahagiakan Ibu
Baca juga:Jangan Sampai Ambisi Duniawi Memutus Tali Persaudaraan
Rangkaian interaksi tersebut memperlihatkan sebuah lingkungan yang kering dari adab kesantunan. Masalah sebenarnya bukanlah pada mesin blender, letak keranjang sampah, atau paket yang salah alamat, melainkan pada ketiadaan hifdzul lisan (menjaga lisan). Ketidakmampuan mereka memilih diksi yang sopan dan keengganan untuk berbicara dari hati ke hati membuat suasana bertetangga menjadi sangat individualis dan penuh kecurigaan.
Dalam ajaran Islam, lisan ibarat pisau bermata dua yang bisa merajut ukhuwah sekaligus mencabik persaudaraan. Allah SWT sangat menaruh perhatian pada tata krama berbicara, bahkan menjadikannya sebagai salah satu pilar kebaikan sosial. Hal ini termaktub dalam pedoman Al-Qur'an: "serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" (QS. Al-Baqarah: 83). Ayat ini menuntut setiap muslim untuk selalu mengedepankan tutur kata yang lembut, apalagi kepada tetangga terdekat.
Baca juga:Bahaya Prasangka Buruk di Lingkungan Bertetangga