Seni Mengatur Waktu ala Nabi: Menggali Makna di Balik Tradisi Menyegerakan Berbuka dan Mengakhirkan Sahur
Miftah yusufpati
Kamis, 26 Februari 2026 - 03:30 WIB
Memahami perilaku Rasulullah di bulan Ramadhan adalah kunci untuk meraih pahala yang sempurna. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bulan Ramadhan bukan hanya sebuah panggung bagi ketahanan fisik, melainkan juga sebuah laboratorium disiplin waktu yang sangat presisi. Di tengah hiruk-pikuk persiapan hidangan menjelang magrib dan perjuangan melawan kantuk di pengujung malam, tersimpan sebuah pola ritme yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad empat belas abad silam. Dua pilar utama dalam ritme tersebut adalah menyegerakan berbuka (ta'jilul fithr) dan mengakhirkan sahur (takhirus sahur).
Pola ini bukan sekadar urusan perut, melainkan sebuah maklumat tentang keseimbangan hidup dan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Nabi Muhammad menekankan bahwa kebaikan umat ini sangat bergantung pada kepatuhan mereka terhadap ritme waktu tersebut. Sebagaimana disabdakan oleh beliau dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur:
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan filosofis yang dalam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka adalah bentuk ketaatan lahir dan batin terhadap sunah. Dengan segera berbuka saat matahari telah terbenam, seorang muslim sedang menunjukkan bahwa ia tidak berlebih-lebihan dalam beragama. Ia mengakui batas kemampuannya sebagai manusia dan merayakan pemberian Allah tepat pada waktunya.
Dalam literatur klasik Zadul Maad, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menguraikan bahwa Nabi Muhammad biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah), atau jika tidak ada, dengan tamr (kurma kering), atau sekadar beberapa teguk air putih sebelum menunaikan shalat magrib. Praktik ini menunjukkan moderasi; beliau tidak membiarkan perutnya kosong terlalu lama setelah waktu halal tiba, namun juga tidak menjadikannya ajang balas dendam yang menghalangi ibadah shalat.
Kontras dengan berbuka yang harus disegerakan, urusan sahur justru memiliki aturan waktu yang sebaliknya. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu fajar. Hal ini bertujuan untuk memberikan kekuatan maksimal bagi tubuh sebelum menghadapi belasan jam tanpa asupan. Namun, seberapa akhir sahur yang dilakukan oleh Nabi?
Pola ini bukan sekadar urusan perut, melainkan sebuah maklumat tentang keseimbangan hidup dan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Nabi Muhammad menekankan bahwa kebaikan umat ini sangat bergantung pada kepatuhan mereka terhadap ritme waktu tersebut. Sebagaimana disabdakan oleh beliau dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur:
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan filosofis yang dalam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka adalah bentuk ketaatan lahir dan batin terhadap sunah. Dengan segera berbuka saat matahari telah terbenam, seorang muslim sedang menunjukkan bahwa ia tidak berlebih-lebihan dalam beragama. Ia mengakui batas kemampuannya sebagai manusia dan merayakan pemberian Allah tepat pada waktunya.
Dalam literatur klasik Zadul Maad, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menguraikan bahwa Nabi Muhammad biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah), atau jika tidak ada, dengan tamr (kurma kering), atau sekadar beberapa teguk air putih sebelum menunaikan shalat magrib. Praktik ini menunjukkan moderasi; beliau tidak membiarkan perutnya kosong terlalu lama setelah waktu halal tiba, namun juga tidak menjadikannya ajang balas dendam yang menghalangi ibadah shalat.
Kontras dengan berbuka yang harus disegerakan, urusan sahur justru memiliki aturan waktu yang sebaliknya. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu fajar. Hal ini bertujuan untuk memberikan kekuatan maksimal bagi tubuh sebelum menghadapi belasan jam tanpa asupan. Namun, seberapa akhir sahur yang dilakukan oleh Nabi?