Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Seni Mengatur Waktu ala Nabi: Menggali Makna di Balik Tradisi Menyegerakan Berbuka dan Mengakhirkan Sahur

miftah yusufpati Kamis, 26 Februari 2026 - 03:30 WIB
Seni Mengatur Waktu ala Nabi: Menggali Makna di Balik Tradisi Menyegerakan Berbuka dan Mengakhirkan Sahur
Memahami perilaku Rasulullah di bulan Ramadhan adalah kunci untuk meraih pahala yang sempurna. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bulan Ramadhan bukan hanya sebuah panggung bagi ketahanan fisik, melainkan juga sebuah laboratorium disiplin waktu yang sangat presisi. Di tengah hiruk-pikuk persiapan hidangan menjelang magrib dan perjuangan melawan kantuk di pengujung malam, tersimpan sebuah pola ritme yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad empat belas abad silam. Dua pilar utama dalam ritme tersebut adalah menyegerakan berbuka (ta'jilul fithr) dan mengakhirkan sahur (takhirus sahur).

Pola ini bukan sekadar urusan perut, melainkan sebuah maklumat tentang keseimbangan hidup dan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Nabi Muhammad menekankan bahwa kebaikan umat ini sangat bergantung pada kepatuhan mereka terhadap ritme waktu tersebut. Sebagaimana disabdakan oleh beliau dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan filosofis yang dalam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka adalah bentuk ketaatan lahir dan batin terhadap sunah. Dengan segera berbuka saat matahari telah terbenam, seorang muslim sedang menunjukkan bahwa ia tidak berlebih-lebihan dalam beragama. Ia mengakui batas kemampuannya sebagai manusia dan merayakan pemberian Allah tepat pada waktunya.

Dalam literatur klasik Zadul Maad, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menguraikan bahwa Nabi Muhammad biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah), atau jika tidak ada, dengan tamr (kurma kering), atau sekadar beberapa teguk air putih sebelum menunaikan shalat magrib. Praktik ini menunjukkan moderasi; beliau tidak membiarkan perutnya kosong terlalu lama setelah waktu halal tiba, namun juga tidak menjadikannya ajang balas dendam yang menghalangi ibadah shalat.

Kontras dengan berbuka yang harus disegerakan, urusan sahur justru memiliki aturan waktu yang sebaliknya. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu fajar. Hal ini bertujuan untuk memberikan kekuatan maksimal bagi tubuh sebelum menghadapi belasan jam tanpa asupan. Namun, seberapa akhir sahur yang dilakukan oleh Nabi?

Zaid bin Tsabit meriwayatkan bahwa ia pernah makan sahur bersama Rasulullah. Ketika ditanya mengenai jarak antara sahur beliau dengan iqamah shalat subuh, ia memberikan sebuah ukuran puitis sekaligus fungsional: seukuran bacaan lima puluh ayat Al-Quran. Ukuran ini memberikan gambaran bahwa sahur Nabi dilakukan sangat dekat dengan waktu subuh, namun tetap memberikan jeda yang cukup untuk bersuci dan bersiap menuju masjid.

Pengaturan waktu ini menepis kecenderungan sebagian orang yang melakukan sahur terlalu dini—misalnya tengah malam—hanya agar bisa tidur lebih lama. Mengakhirkan sahur, menurut para ulama dunia, adalah cara untuk memastikan seorang muslim tetap terjaga hingga waktu subuh tiba, sehingga ia tidak kehilangan keutamaan ibadah fajar. Di sinilah letak kecerdasan manajemen waktu kenabian; ibadah fisik (puasa) dan ibadah spiritual (shalat berjamaah) berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.

Sikap Rasulullah yang tidak pernah ekstrem (ghuluw) dalam menentukan batas waktu ini adalah bentuk rahmah bagi umat. Beliau tidak pernah mensyariatkan adanya jeda waktu imsak yang terlalu jauh sebelum fajar, karena hal itu justru dapat memberatkan. Sebaliknya, beliau memberikan keleluasaan bagi umatnya untuk menikmati karunia Allah hingga fajar shadiq benar-benar tampak dengan jelas di ufuk timur.

Memahami perilaku Rasulullah di bulan Ramadhan adalah kunci untuk meraih pahala yang sempurna. Tanpa ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari petunjuk kenabian, sebuah amalan berisiko menjadi sia-sia. Dengan menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, seorang muslim tidak hanya mengikuti rutinitas biologis, tetapi sedang mempraktikkan sebuah amalan saleh yang merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat. Inilah jalan kebahagiaan yang akan membawa seorang hamba untuk senantiasa bersama sang kekasih Allah di dunia maupun di akhirat kelak.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)