home masjid

Melampaui Batas Logika: Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan Ibarat Angin yang Berembus

Jum'at, 27 Februari 2026 - 16:00 WIB
Ramadhan adalah bulan di mana setiap kebaikan dilipatgandakan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bagi masyarakat Madinah empat belas abad silam, Ramadhan bukan hanya berarti perubahan jadwal makan, melainkan tibanya musim kedermawanan yang tak tertandingi. Di tengah kepapaan sebagian penduduknya, sosok Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam muncul sebagai oase yang melimpahkan segala yang beliau miliki kepada siapa saja yang membutuhkan. Jika pada bulan-bulan biasa beliau sudah dikenal sebagai pribadi yang tangan di atas, maka pada bulan Ramadhan, kedermawanan beliau bertransformasi menjadi sesuatu yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menguraikan bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah jalan tunggal menuju kebahagiaan sejati. Meneladani kedermawanan beliau di bulan suci merupakan amalan saleh yang lahir dari ilmu yang bermanfaat. Nabi tidak pernah membiarkan tangannya tertahan oleh rasa khawatir akan masa depan, sebab beliau memahami bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk memberikan manfaat terbaik bagi sesama.

Salah satu metafora paling kuat yang digunakan para sahabat untuk mendeskripsikan sifat pemurah Nabi terekam dalam Shahih Bukhari melalui penuturan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Beliau menyebutkan bahwa Nabi adalah orang yang paling dermawan, dan puncaknya terjadi saat Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Quran. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah digambarkan:

فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Maka Rasulullah jauh lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berembus. (HR. Bukhari).

Penggunaan diksi angin yang berembus (ar-rihil mursalah) mengandung makna yang sangat dalam. Angin tidak memilih tempat untuk disentuh; ia membawa kesejukan bagi si kaya maupun si miskin, menyentuh tanah yang subur maupun yang tandus, dan ia bergerak dengan sangat cepat. Begitulah kedermawanan Rasulullah. Beliau memberikan bantuan tanpa birokrasi yang rumit, tanpa diskriminasi, dan tanpa sedikit pun keraguan. Beliau adalah pribadi yang tidak takut kekurangan sama sekali karena keyakinannya pada perbendaharaan Allah yang tidak terbatas.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad menjelaskan bahwa kedermawanan Nabi di bulan Ramadhan mencakup segala hal: ilmu, harta, jiwa, dan waktu. Beliau memberikan makanan bagi mereka yang berpuasa, menanggung beban orang-orang yang kesulitan, serta memberikan ketenangan ruhani melalui pengajaran Al-Quran. Ilmu yang bermanfaat ini mengajarkan kepada umat Islam bahwa puasa seharusnya memperhalus perasaan seseorang terhadap penderitaan orang lain, bukan justru menjadikannya kikir karena alasan ekonomi yang tidak menentu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya