Warning Menlu Sugiono: Eskalasi Konflik Iran VS Amerika-Israel Risiko Perang Meluas Menyeret Negara Lain
Tim langit 7
Kamis, 05 Maret 2026 - 06:22 WIB
Warning Menlu Sugiono: Eskalasi Konflik Iran VS Amerika-Israel Risiko Perang Meluas Menyeret Negara Lain
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyampaikan kekhawatiran serius terkait perkembangan terbaru konflik di Iran. Menurutnya, situasi yang terjadi tidak lagi bisa dipandang sebagai konflik bilateral semata, melainkan memiliki potensi besar untuk meluas dan menyeret sejumlah negara lain ke dalam pusaran perang.
“Risiko paling buruk dari situasi ini adalah terjadinya eskalasi yang lebih besar yang melibatkan lebih banyak negara. Itu risikonya,” ujar Sugiono kepada awak media di sela-sela kegiatannya di Hotel Fairmont, Jakarta, pada Rabu (4/3/2026).
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Menlu di tengah memanasnya situasi geopolitik pasca gagalnya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa. Sugiono menyayangkan kegagalan dialog tersebut karena dinilai telah menutup pintu diplomasi yang justru sangat dibutuhkan saat ini.
Pemerintah Indonesia, lanjutnya, secara konsisten mendorong agar semua pihak yang terlibat dapat menahan diri dan mengedepankan upaya de-eskalasi. “Kita menginginkan situasi mereda. Kami menyesali gagalnya perundingan yang kemudian memicu situasi saat ini. Namun sekali lagi, kami tekankan pentingnya semua negara untuk menghormati prinsip kedaulatan dan integritas wilayah,” tegasnya.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Indonesia tidak tinggal diam. Menlu Sugiono mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan kesiapan pribadinya untuk mengambil peran sebagai mediator perdamaian. Tawaran ini disampaikan sebagai upaya konkret Indonesia dalam menjaga stabilitas global.
“Itu adalah keinginan beliau, menawarkan kesediaan untuk menjadi mediator jika kedua belah pihak (Iran, Israel, dan AS) menyepakati dan menyetujuinya,” kata Sugiono.
Di akhir pernyataannya, Sugiono kembali mengingatkan bahwa perdamaian dunia adalah tanggung jawab bersama. Ia berharap agar seluruh negara, tanpa terkecuali, tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelesaikan perselisihan.
“Risiko paling buruk dari situasi ini adalah terjadinya eskalasi yang lebih besar yang melibatkan lebih banyak negara. Itu risikonya,” ujar Sugiono kepada awak media di sela-sela kegiatannya di Hotel Fairmont, Jakarta, pada Rabu (4/3/2026).
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Menlu di tengah memanasnya situasi geopolitik pasca gagalnya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa. Sugiono menyayangkan kegagalan dialog tersebut karena dinilai telah menutup pintu diplomasi yang justru sangat dibutuhkan saat ini.
Pemerintah Indonesia, lanjutnya, secara konsisten mendorong agar semua pihak yang terlibat dapat menahan diri dan mengedepankan upaya de-eskalasi. “Kita menginginkan situasi mereda. Kami menyesali gagalnya perundingan yang kemudian memicu situasi saat ini. Namun sekali lagi, kami tekankan pentingnya semua negara untuk menghormati prinsip kedaulatan dan integritas wilayah,” tegasnya.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Indonesia tidak tinggal diam. Menlu Sugiono mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan kesiapan pribadinya untuk mengambil peran sebagai mediator perdamaian. Tawaran ini disampaikan sebagai upaya konkret Indonesia dalam menjaga stabilitas global.
“Itu adalah keinginan beliau, menawarkan kesediaan untuk menjadi mediator jika kedua belah pihak (Iran, Israel, dan AS) menyepakati dan menyetujuinya,” kata Sugiono.
Di akhir pernyataannya, Sugiono kembali mengingatkan bahwa perdamaian dunia adalah tanggung jawab bersama. Ia berharap agar seluruh negara, tanpa terkecuali, tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelesaikan perselisihan.