Ramadhan Bercahaya
Masa Depan Bangsa di Piring Anak, Upaya Menyelamatkan Generasi dari Ancaman Stunting
Esti setiyowati
Kamis, 12 Maret 2026 - 06:00 WIB
Masa Depan Bangsa di Piring Anak, Upaya Menyelamatkan Generasi dari Ancaman Stunting. Foto: RDK UGM
Masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, kemajuan teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, masa depan bangsa juga ditentukan oleh apa yang dimakan anak-anaknya hari ini.
Pesan inilah yang disampaikan Rektor Universitas Alma Ata, Prof. dr. Hamam Hadi, dalam acara Ramadhan Public Lecture di Masjid Kampus UGM, Rabu (11/3/2026).
Dalam ceramah bertajuk “Masa Depan Bangsa di Piring Anak: Menyelamatkan Generasi dari Stunting”, ia menegaskan bahwa persoalan stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan persoalan masa depan bangsa.
Baca juga: Membangun Supremasi Hukum dari Nilai-Nilai Islam dan Kekuatan Civil Society
“Stunting adalah ketika anak memiliki skor tinggi badan menurut umur kurang dari minus dua. Artinya, anak tersebut memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan anak seusianya,” ujarnya.
Menurut Hamam, kondisi tersebut terjadi karena kekurangan asupan gizi secara kronis dalam jangka waktu yang panjang. Kekurangan gizi ini umumnya dipicu oleh dua faktor utama, yakni keterbatasan kemampuan keluarga menyediakan makanan bergizi serta penyakit infeksi yang membuat anak sulit menyerap nutrisi.
“Anak-anak yang sering sakit biasanya juga mengalami kesulitan makan. Akibatnya asupan gizi mereka tidak tercukupi,” katanya.
Pesan inilah yang disampaikan Rektor Universitas Alma Ata, Prof. dr. Hamam Hadi, dalam acara Ramadhan Public Lecture di Masjid Kampus UGM, Rabu (11/3/2026).
Dalam ceramah bertajuk “Masa Depan Bangsa di Piring Anak: Menyelamatkan Generasi dari Stunting”, ia menegaskan bahwa persoalan stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan persoalan masa depan bangsa.
Baca juga: Membangun Supremasi Hukum dari Nilai-Nilai Islam dan Kekuatan Civil Society
“Stunting adalah ketika anak memiliki skor tinggi badan menurut umur kurang dari minus dua. Artinya, anak tersebut memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan anak seusianya,” ujarnya.
Menurut Hamam, kondisi tersebut terjadi karena kekurangan asupan gizi secara kronis dalam jangka waktu yang panjang. Kekurangan gizi ini umumnya dipicu oleh dua faktor utama, yakni keterbatasan kemampuan keluarga menyediakan makanan bergizi serta penyakit infeksi yang membuat anak sulit menyerap nutrisi.
“Anak-anak yang sering sakit biasanya juga mengalami kesulitan makan. Akibatnya asupan gizi mereka tidak tercukupi,” katanya.