Aktor Peraih Oscar Mahershala Ali Temukan Ketenangan Spiritual Melalui Puasa Ramadhan dan Identitas Muslim
Miftah yusufpati
Selasa, 17 Maret 2026 - 15:26 WIB
Kisah Mahershala Ali adalah bukti bahwa hidayah bisa datang melalui pintu mana saja, bahkan di tengah hiruk-pikuk New York atau ketatnya tradisi keluarga pendeta. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dunia mengenal Mahershala Ali sebagai aktor watak dengan kemampuan akting yang luar biasa, terbukti dengan dua piala Oscar yang disabetnya melalui film Moonlight dan Green Book. Namun, di balik sorot lampu Hollywood dan karpet merah, pria kelahiran Oakland ini menyimpan lapisan spiritualitas yang mendalam. Keputusan Ali untuk memeluk Islam bukan sekadar perpindahan identitas di atas kertas, melainkan sebuah perjalanan batin yang panjang, penuh air mata, dan pencarian jawaban atas kesunyian hati yang ia rasakan sejak remaja.
Dalam ajaran Islam, sosok mualaf seperti Ali menempati posisi yang sangat mulia. Kitab suci Al-Quran dalam Surah At-Taubah ayat 60 secara eksplisit menempatkan mereka sebagai salah satu golongan yang berhak menerima zakat (muallafatu qulubuhum). Ketentuan ini merupakan bentuk perlindungan sosial dan dukungan spiritual agar mereka yang baru memeluk Islam dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan barunya. Bagi Ali, perlindungan tersebut ia rasakan melalui ketenangan yang ia temukan di dalam masjid, sebuah tempat yang awalnya asing bagi latar belakang keluarganya.
Lahir dengan nama Mahershalalhashbaz Gilmore, Ali tumbuh dalam tradisi Kristen yang sangat kuat. Ibunya dan neneknya bukan sekadar penganut biasa, melainkan pendeta Baptis yang dihormati di lingkungannya. Tumbuh dalam pengajaran gereja yang kental tidak lantas membuat Ali merasa penuh. Sebaliknya, ia sering merasakan kekosongan yang ia sebut sebagai rasa sunyi. Pencarian itu baru menemukan titik terang saat ia menempuh studi pascasarjana di New York University (NYU) pada akhir era 1990-an.
Di sana, ia bertemu dengan Amatus Sami-Karim, wanita yang kelak menjadi istrinya. Interaksinya dengan Amatus membuka cakrawala baru bagi Ali. Puncaknya terjadi saat libur Natal, di mana Ali untuk pertama kalinya melangkah masuk ke dalam sebuah masjid bersama Amatus. Pengalaman itu digambarkannya sebagai sesuatu yang melampaui logika manusia. Kepada The Hollywood Reporter pada tahun 2017, Ali mengenang bahwa ada koneksi yang menembus segalanya hingga membuatnya menangis tanpa henti di dalam masjid tersebut.
Seminggu setelah kunjungan pertama itu, Ali kembali. Suara azan dan getaran khotbah yang ia dengar seolah meruntuhkan tembok kesunyian di hatinya. Di sana, ia merasa telah pulang ke rumah yang selama ini ia cari. Tak butuh waktu lama baginya untuk memantapkan hati mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, perjalanan setelah menjadi Muslim tidaklah mudah, terutama terkait hubungan dengan sang ibu yang merupakan seorang pendeta.
Reaksi awal sang ibu adalah kemarahan dan kekecewaan. Hal ini menjadi ujian pertama bagi Ali dalam mempraktikkan ajaran Islam tentang kesabaran dan bakti kepada orang tua. Selama bertahun-tahun, Ali berusaha membangun jembatan toleransi. Ia membuktikan bahwa keislamannya tidak mengurangi rasa cintanya kepada sang ibu. Proses rekonsiliasi itu memakan waktu lama, namun membuahkan hasil yang manis. Ali menyebutkan bahwa meskipun ibunya tidak langsung bahagia saat ia berpindah keyakinan 17 tahun silam, kini mereka bisa saling memandang dengan penuh kehangatan sebagai sesama manusia yang menghargai pilihan hidup masing-masing.
Sebagai seorang mualaf di industri hiburan global, pengalaman puasa Ramadhan perdana dan tahun-tahun berikutnya menjadi pilar kekuatan bagi Ali. Puasa baginya bukan sekadar menahan lapar, melainkan bentuk latihan disiplin yang sinkron dengan profesinya sebagai aktor yang menuntut fokus tinggi. Ramadhan menjadi waktu bagi Ali untuk merefleksikan kembali perjalanan panjangnya dari seorang pemuda yang kesepian menjadi pria yang menemukan jangkar spiritualitasnya pada sujud di sajadah.
Dalam ajaran Islam, sosok mualaf seperti Ali menempati posisi yang sangat mulia. Kitab suci Al-Quran dalam Surah At-Taubah ayat 60 secara eksplisit menempatkan mereka sebagai salah satu golongan yang berhak menerima zakat (muallafatu qulubuhum). Ketentuan ini merupakan bentuk perlindungan sosial dan dukungan spiritual agar mereka yang baru memeluk Islam dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan barunya. Bagi Ali, perlindungan tersebut ia rasakan melalui ketenangan yang ia temukan di dalam masjid, sebuah tempat yang awalnya asing bagi latar belakang keluarganya.
Lahir dengan nama Mahershalalhashbaz Gilmore, Ali tumbuh dalam tradisi Kristen yang sangat kuat. Ibunya dan neneknya bukan sekadar penganut biasa, melainkan pendeta Baptis yang dihormati di lingkungannya. Tumbuh dalam pengajaran gereja yang kental tidak lantas membuat Ali merasa penuh. Sebaliknya, ia sering merasakan kekosongan yang ia sebut sebagai rasa sunyi. Pencarian itu baru menemukan titik terang saat ia menempuh studi pascasarjana di New York University (NYU) pada akhir era 1990-an.
Di sana, ia bertemu dengan Amatus Sami-Karim, wanita yang kelak menjadi istrinya. Interaksinya dengan Amatus membuka cakrawala baru bagi Ali. Puncaknya terjadi saat libur Natal, di mana Ali untuk pertama kalinya melangkah masuk ke dalam sebuah masjid bersama Amatus. Pengalaman itu digambarkannya sebagai sesuatu yang melampaui logika manusia. Kepada The Hollywood Reporter pada tahun 2017, Ali mengenang bahwa ada koneksi yang menembus segalanya hingga membuatnya menangis tanpa henti di dalam masjid tersebut.
Seminggu setelah kunjungan pertama itu, Ali kembali. Suara azan dan getaran khotbah yang ia dengar seolah meruntuhkan tembok kesunyian di hatinya. Di sana, ia merasa telah pulang ke rumah yang selama ini ia cari. Tak butuh waktu lama baginya untuk memantapkan hati mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, perjalanan setelah menjadi Muslim tidaklah mudah, terutama terkait hubungan dengan sang ibu yang merupakan seorang pendeta.
Reaksi awal sang ibu adalah kemarahan dan kekecewaan. Hal ini menjadi ujian pertama bagi Ali dalam mempraktikkan ajaran Islam tentang kesabaran dan bakti kepada orang tua. Selama bertahun-tahun, Ali berusaha membangun jembatan toleransi. Ia membuktikan bahwa keislamannya tidak mengurangi rasa cintanya kepada sang ibu. Proses rekonsiliasi itu memakan waktu lama, namun membuahkan hasil yang manis. Ali menyebutkan bahwa meskipun ibunya tidak langsung bahagia saat ia berpindah keyakinan 17 tahun silam, kini mereka bisa saling memandang dengan penuh kehangatan sebagai sesama manusia yang menghargai pilihan hidup masing-masing.
Sebagai seorang mualaf di industri hiburan global, pengalaman puasa Ramadhan perdana dan tahun-tahun berikutnya menjadi pilar kekuatan bagi Ali. Puasa baginya bukan sekadar menahan lapar, melainkan bentuk latihan disiplin yang sinkron dengan profesinya sebagai aktor yang menuntut fokus tinggi. Ramadhan menjadi waktu bagi Ali untuk merefleksikan kembali perjalanan panjangnya dari seorang pemuda yang kesepian menjadi pria yang menemukan jangkar spiritualitasnya pada sujud di sajadah.