Trump Tuai Kecaman, Ucap Alhamdulillah Saat Ancam Bakal Serang Iran Habis-Habisan
Esti setiyowati
Senin, 06 April 2026 - 21:42 WIB
Trump Tuai Kecaman, Ucap Alhamdulillah Saat Ancam Bakal Serang Iran Habis-Habisan. Foto: Ist.
Presiden AS Donald Trump kembali menuai kritik tajam akibat pernyataan kasarnya di media sosial pada Ahad (5/4/2026). Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitaspembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
"Buka selat itu sekarang juga, atau kalian akan hidup dalam neraka — lihat saja nanti!" tulis Trump.
Ia juga menambahkan kalimat, "Praise be to Allah (Segala puji bagi Allah)," yang dinilai sebagai ejekan.
Baca juga:Gara Gara Serang Iran, Penyesalan Pemilih Trump Kini Mulai Terasa, Popularitas Presiden dari Republik Ini Melorot Tajam
Ancaman tersebut langsung memicu reaksi keras dari kalangan oposisi. Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut amukan Trump seperti orang tidak terkendali, apalagi di hari besar keagamaan.
"Selamat Paskah, Amerika. Saat masyarakat pergi ke gereja dan berkumpul dengan keluarga, Trump justru mengamuk di media sosial seperti orang yang tidak terkendali," ujarnya.
Schumer juga menilai bahwa pernyataan tersebut berpotensi mengarah pada pelanggaran hukum internasional serta merusak hubungan dengan sekutu.
"Buka selat itu sekarang juga, atau kalian akan hidup dalam neraka — lihat saja nanti!" tulis Trump.
Ia juga menambahkan kalimat, "Praise be to Allah (Segala puji bagi Allah)," yang dinilai sebagai ejekan.
Baca juga:Gara Gara Serang Iran, Penyesalan Pemilih Trump Kini Mulai Terasa, Popularitas Presiden dari Republik Ini Melorot Tajam
Ancaman tersebut langsung memicu reaksi keras dari kalangan oposisi. Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut amukan Trump seperti orang tidak terkendali, apalagi di hari besar keagamaan.
"Selamat Paskah, Amerika. Saat masyarakat pergi ke gereja dan berkumpul dengan keluarga, Trump justru mengamuk di media sosial seperti orang yang tidak terkendali," ujarnya.
Schumer juga menilai bahwa pernyataan tersebut berpotensi mengarah pada pelanggaran hukum internasional serta merusak hubungan dengan sekutu.