home masjid

Nama yang Disucikan: Jangan Seret Nama Nabi Yaqub dalam Celaan terhadap Yahudi

Selasa, 07 April 2026 - 16:30 WIB
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah penjaga marwah sejarah dan akidah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam lembaran sejarah peradaban manusia, bahasa sering kali menjadi medan tempur yang senyap namun menentukan. Salah satu fenomena yang paling mencolok dalam diskursus kontemporer adalah bagaimana kaum muslimin, dari kalangan awam hingga terpelajar, begitu mudah menyebut negeri yang sedang menjajah Palestina dengan nama Israel. Sebutan ini meluncur dalam berita koran, tajuk majalah, hingga orasi politik yang penuh cercaan. Namun, jika kita menelisik kembali otoritas wahyu, sebuah tanya besar muncul: layakkah nama seorang nabi yang suci diseret ke dalam lumpur laknat dan kemurkaan?

Syaikh Prof. Dr. Rabi bin Hadi Al-Madkhali, dalam amatan tajamnya yang terangkum dalam Ain Salsabil Min Ma’ini Imamil Jarhi Wa Ta’dil, memberikan peringatan yang menggetarkan. Beliau menyoroti sebuah makar bahasa yang halus namun merusak. Baginya, menyandarkan segala bentuk keburukan, penjajahan, dan kekafiran kepada nama Israel adalah sebuah kemungkaran yang nyaris tanpa pengingkar. Padahal, Israel bukanlah sekadar entitas geopolitik; ia adalah gelar bagi Nabi Yaqub Alaihissalam.

Al-Quran, sebagai rujukan utama hukum dan sejarah, telah memberikan prototipe yang sangat jelas mengenai bagaimana Allah memperlakukan objek celaan. Jika kita membuka mushaf, kita akan menemukan rentetan ayat yang mencela, melaknat, dan mengabarkan kemurkaan Allah terhadap perilaku sebuah kaum. Namun, satu hal yang sering luput dari perhatian adalah diksi yang digunakan Allah dalam redaksi-redaksi tersebut.

Allah mencela mereka dengan sebutan Al-Yahud atau orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil. Allah tidak pernah mengarahkan cercaan-Nya secara langsung kepada nama Israel. Mengapa demikian? Karena Israel adalah personifikasi dari kesalehan. Ia adalah putra dari Nabi Ishaq dan cucu dari Al-Khalilullah Ibrahim. Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Shod ayat 45-47, sosok Yaqub atau Israel adalah hamba pilihan yang memiliki kekuatan besar dalam ketaatan dan ilmu yang tinggi. Beliau disucikan oleh Allah dengan akhlak yang luhur.

Memahami perbedaan ini adalah kunci akidah yang mendasar. Dalam tradisi ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, silsilah kenabian ini adalah silsilah cahaya. Menggunakan nama Israel untuk merujuk pada sebuah rezim yang melakukan penindasan di jantung negeri muslim sebenarnya merupakan bentuk ketidaksadaran yang berbahaya. Tanpa disadari, ketika seorang muslim berteriak bahwa Israel telah melakukan pembantaian, ia sedang melekatkan tindakan keji tersebut kepada subjek yang merupakan seorang rasul pilihan.

Makar Zionisme modern justru terletak pada keberhasilan mereka membajak nama suci ini. Dengan menamakan negeri mereka sebagai Israel, mereka seolah ingin memaksakan pengakuan dunia bahwa mereka adalah representasi sah dari garis kenabian tersebut. Ironisnya, kaum muslimin justru terjebak dalam perangkap semantik ini. Mereka menggunakan istilah tersebut dalam konteks mencela, namun secara teknis tetap mengakui legitimasi nama itu sebagai identitas sang penjajah.

Syaikh Rabi menegaskan bahwa hal yang benar menurut syariat adalah memisahkan antara kemuliaan Nabi Yaqub dan keburukan kaum Yahudi. Celaan Allah terhadap mereka didasarkan pada pembangkangan mereka terhadap hukum Tuhan, pembunuhan mereka terhadap para nabi, dan pengkhianatan mereka terhadap perjanjian. Namun, semua narasi negatif itu tidak pernah dikaitkan dengan esensi nama Israel sebagai sosok pribadi nabi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya