home masjid

Di Balik Perisai Tauhid: Perbaikan Akidah Jadi Syarat Mutlak Kemenangan Muslim

Rabu, 08 April 2026 - 15:30 WIB
Kemenangan adalah janji Allah bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah mencatat bahwa kejayaan sebuah peradaban tidak selalu ditentukan oleh seberapa canggih persenjataan yang mereka miliki di garis depan. Sering kali, keruntuhan justru bermula dari keroposnya fondasi keyakinan dan kekacauan dalam menggunakan logika berpikir. Di tengah keriuhan konflik global yang menyudutkan umat Islam hari ini, sebuah pertanyaan mendasar kembali mengemuka: di mana letak kunci kemenangan yang sesungguhnya?

Syaikh Prof. Dr. Rabi bin Hadi Al-Madkhali, melalui karyanya Ain Salsabil Min Ma’ini Imamil Jarhi Wa Ta’dil, menawarkan sebuah refleksi mendalam yang menembus jantung persoalan. Bagi beliau, kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuh mereka bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari persiapan yang matang pada dua lapis kekuatan: akidah dan materi. Namun, lapisan pertama—yakni akidah dan manhaj—adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Persiapan pertama dan yang paling agung adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah sesuai dengan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah serta para sahabat. Ini bukan sekadar slogan nostalgia, melainkan sarana paling fundamental untuk mengembalikan keluhuran nilai umat. Tanpa pembersihan diri dari hawa nafsu, bid'ah, dan fanatisme golongan (ta'ashshub) terhadap kebatilan, perjuangan fisik hanya akan menjadi gerakan tanpa roh.

Barulah setelah fondasi akidah tegak, perintah untuk mempersiapkan kekuatan materi menjadi wajib hukumnya. Syaikh Rabi mengutip Surah Al-Anfal ayat 60 yang memerintahkan umat untuk menyiapkan segala bentuk kekuatan guna menggentarkan musuh Allah. Kekuatan di sini bersifat inklusif, mulai dari penguasaan teknologi industri, jual beli senjata, hingga latihan militer yang disiplin. Penekanan Rasulullah bahwa kekuatan itu adalah melempar diartikan secara luas dalam konteks modern sebagai penguasaan atas setiap senjata jarak jauh yang efektif.

Namun, ada sebuah anomali besar yang disoroti oleh Syaikh Rabi dalam strategi perjuangan umat saat ini: sebuah makar bahasa yang sangat halus namun berbahaya. Beliau mengungkapkan keheranannya terhadap kecenderungan kaum muslimin yang menyebut negeri Yahudi yang brengsek dan dimurkai tersebut dengan nama Israel. Mengapa nama seorang nabi yang mulia, Yaqub Alaihissalam, justru dilekatkan pada sebuah entitas yang secara historis merupakan musuh para nabi?

Ini bukan sekadar masalah istilah. Syaikh Rabi mengingatkan bahwa ketika cacian, laknat, dan cercaan diarahkan kepada negeri tersebut dengan menyebut nama Israel, maka secara tidak sadar cercaan itu berpaling kepada sang nabi itu sendiri. Beliau menganalogikan hal ini dengan bagaimana Allah melindungi Nabi Muhammad dari cacian kaum Quraisy. Saat itu, kaum Quraisy mencaci-maki sosok yang mereka sebut Mudzammam (yang tercela), sehingga cacian itu tidak mengenai Nabi Muhammad yang berarti yang terpuji.

Namun, dalam kasus penggunaan nama Israel, kaum muslimin justru secara ceroboh menggunakan nama asli seorang nabi pilihan untuk melabeli musuh-musuh Allah. Bagaimana mungkin lisan seorang mukmin sanggup melakukan itu? Apakah perkara ini mendatangkan keridhaan Allah? Syaikh Rabi menegaskan bahwa bahasa Arab sangatlah luas. Tidak ada alasan untuk tetap menggunakan nama nabi dalam konteks yang negatif, seolah-olah perbendaharaan kata telah habis.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya