Hukuman Bagi Pemimpin Pendusta
Ahmad zuhdi
Jum'at, 15 Oktober 2021 - 20:05 WIB
Ilustrasi seorang pemimpin. (Foto: Langit7.ID/iStock)
Alquran dan hadits senantiasa relevan dengan perkembangan zaman bila dibahas dari berbagai aspek, mulai dari hal terkecil urusan dalam rumah tangga hingga terkait kepemimpinan secara global dan universal. Salah satunya adalah hadits yang menjelaskan tentang hukuman atau balasan bagi pemimpin pendusta dan pengikutnya.
Dalam salah satu hadits Ka’ab bin Ujrah radiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang pemimpin yang berdusta dan zalim. Pada hadits tersebut, meskipun seorang pemimpin berdusta dan berbuat zalim, namun masih saja ada pengikutnya dan orang yang melegitimasi (membenarkan) perbuatannya.
Baca juga:Pandangan Para Ulama Mengenai Perayaan Maulid Nabi
Sebagaimana hadits shahih berikut:
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah SAW pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda: “Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan dzalim. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akann minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” (HR Ahmad nomor 17424).
Hadits tersebut bicara tentang seputar kepemimpinan yang tidak berbasis nurani karena mengedepankan interest yang berbasis syahwat duniawi. Lebih condong pada kelompok nya daripada kemaslahatan. Di antara makna hadits tersebut yang dapat diambil pelajaran, yaitu:
Dalam salah satu hadits Ka’ab bin Ujrah radiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang pemimpin yang berdusta dan zalim. Pada hadits tersebut, meskipun seorang pemimpin berdusta dan berbuat zalim, namun masih saja ada pengikutnya dan orang yang melegitimasi (membenarkan) perbuatannya.
Baca juga:Pandangan Para Ulama Mengenai Perayaan Maulid Nabi
Sebagaimana hadits shahih berikut:
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah SAW pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda: “Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan dzalim. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akann minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” (HR Ahmad nomor 17424).
Hadits tersebut bicara tentang seputar kepemimpinan yang tidak berbasis nurani karena mengedepankan interest yang berbasis syahwat duniawi. Lebih condong pada kelompok nya daripada kemaslahatan. Di antara makna hadits tersebut yang dapat diambil pelajaran, yaitu: