Keyakinan Imam Syafi’i: Melihat Allah adalah Puncak Balasan di Akhirat
Miftah yusufpati
Senin, 20 April 2026 - 05:00 WIB
Di balik setiap rakaat shalat dan tetesan keringat dalam ketaatan, ada sebuah janji yang sangat mahal. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam sejarah panjang pemikiran Islam, perdebatan mengenai apakah manusia dapat melihat Tuhan di akhirat (ru’yatullah) pernah menjadi sumbu ketegangan politik dan intelektual yang hebat. Di tengah arus rasionalisme ekstrem yang menafikan kemungkinan tersebut, Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i muncul dengan sebuah argumen yang jernih sekaligus puitis.
Bagi sang Imam, melihat Allah adalah puncak dari segala pencapaian spiritual, sebuah harapan yang justru menjadi alasan utama mengapa seorang hamba bersedia bersujud di atas bumi. Kisah ini terekam dalam catatan ar-Rabi’ bin Sulaiman, murid setia sang Imam.
Suatu hari di Mesir, sebuah surat datang dari daerah ash-Sha’id. Isinya adalah pertanyaan kritis mengenai tafsir surat Al-Muthaffifin ayat 15:
كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.
Imam Syafi’i tidak membalasnya dengan silat lidah filsafat yang rumit. Beliau menggunakan logika kebahasaan dan rasa (dzauq) yang mendalam. Beliau menulis jawaban yang kemudian menjadi kaidah penting dalam akidah Ahlussunnah: "Ketika Allah menghalangi satu kaum dengan sebab kemurkaan, maka menunjukkan bahwa ada kaum lain yang akan melihat-Nya dengan sebab keridhaan."
Logika Imam Syafi’i sederhana namun mematikan: jika hukuman terberat bagi orang kafir adalah dihalangi dari melihat Tuhan, maka anugerah terbesar bagi orang beriman adalah dibukanya hijab tersebut. Ibnu Haram al-Qurasyi juga mengonfirmasi hal ini, menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menganggap ayat tersebut sebagai dalil terang bahwa para wali Allah akan menatap wajah-Nya pada hari kiamat.
Bagi sang Imam, melihat Allah adalah puncak dari segala pencapaian spiritual, sebuah harapan yang justru menjadi alasan utama mengapa seorang hamba bersedia bersujud di atas bumi. Kisah ini terekam dalam catatan ar-Rabi’ bin Sulaiman, murid setia sang Imam.
Suatu hari di Mesir, sebuah surat datang dari daerah ash-Sha’id. Isinya adalah pertanyaan kritis mengenai tafsir surat Al-Muthaffifin ayat 15:
كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.
Imam Syafi’i tidak membalasnya dengan silat lidah filsafat yang rumit. Beliau menggunakan logika kebahasaan dan rasa (dzauq) yang mendalam. Beliau menulis jawaban yang kemudian menjadi kaidah penting dalam akidah Ahlussunnah: "Ketika Allah menghalangi satu kaum dengan sebab kemurkaan, maka menunjukkan bahwa ada kaum lain yang akan melihat-Nya dengan sebab keridhaan."
Logika Imam Syafi’i sederhana namun mematikan: jika hukuman terberat bagi orang kafir adalah dihalangi dari melihat Tuhan, maka anugerah terbesar bagi orang beriman adalah dibukanya hijab tersebut. Ibnu Haram al-Qurasyi juga mengonfirmasi hal ini, menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menganggap ayat tersebut sebagai dalil terang bahwa para wali Allah akan menatap wajah-Nya pada hari kiamat.