Imam Syafi’i Wafat di Mesir pada Usia 54 Tahun di Akhir Bulan Rajab
Miftah yusufpati
Selasa, 21 April 2026 - 16:00 WIB
Imam Syafii wafat, namun mataharinya tetap bersinar di atas cakrawala ilmu pengetahuan hingga hari kiamat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Malam itu di Fustat, Mesir, pada pengujung bulan Rajab tahun 204 Hijriah, sebuah pelita besar yang telah menyinari dunia Islam selama lebih dari lima dekade perlahan meredup. Muhammad bin Idris al-Syafi’i, sang arsitek metodologi hukum yang kita kenal sebagai Imam Syafi’i, terbaring dalam sakit yang menjadi pengantar kepulangannya. Di usia yang tergolong produktif, lima puluh empat tahun, ia bersiap meninggalkan panggung dunia yang telah ia warnai dengan tinta emas kecerdasan dan kesalehan.
Detik-detik perpisahan itu terekam getir namun agung melalui kesaksian murid setianya, Al-Muzni. Dalam catatan Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi yang terhimpun dalam risalah Mawafiq Muatstsirah min Siratil Imamis Syafi’i (2014), dikisahkan bagaimana Al-Muzni menjenguk sang guru untuk menanyakan kabarnya. Jawaban sang Imam bukanlah keluhan atas rasa sakit fisik, melainkan sebuah refleksi eksistensial yang menggetarkan jiwa.
Imam Syafi’i mengangkat kepalanya dan berujar dengan liris bahwa ia sedang berada dalam perjalanan meninggalkan dunia, berpisah dengan para sahabat, dan bersiap menghadapi timbangan amal perbuatannya. Di titik kulminasi hidupnya, sang ulama besar yang menguasai berbagai disiplin ilmu ini tetap menunjukkan ketawaduan yang luar biasa. Ia mengaku tidak tahu ke mana ruhnya akan dibawa, apakah menuju surga untuk mendapatkan ucapan selamat, ataukah ke neraka yang akan membawa kesedihan.
Air mata sang Imam tumpah. Dalam isak yang tersedu, ia melantunkan bait-bait syair yang kemudian menjadi abadi dalam sejarah literatur Islam:
Tatkala hatiku keras dan terasa sempit keyakinanku
Aku jadikan rasa harap pada Allah sebagai tanggaku
Betapa besar dosa yang ku perbuat, namun ketika aku bandingkan
Detik-detik perpisahan itu terekam getir namun agung melalui kesaksian murid setianya, Al-Muzni. Dalam catatan Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi yang terhimpun dalam risalah Mawafiq Muatstsirah min Siratil Imamis Syafi’i (2014), dikisahkan bagaimana Al-Muzni menjenguk sang guru untuk menanyakan kabarnya. Jawaban sang Imam bukanlah keluhan atas rasa sakit fisik, melainkan sebuah refleksi eksistensial yang menggetarkan jiwa.
Imam Syafi’i mengangkat kepalanya dan berujar dengan liris bahwa ia sedang berada dalam perjalanan meninggalkan dunia, berpisah dengan para sahabat, dan bersiap menghadapi timbangan amal perbuatannya. Di titik kulminasi hidupnya, sang ulama besar yang menguasai berbagai disiplin ilmu ini tetap menunjukkan ketawaduan yang luar biasa. Ia mengaku tidak tahu ke mana ruhnya akan dibawa, apakah menuju surga untuk mendapatkan ucapan selamat, ataukah ke neraka yang akan membawa kesedihan.
Air mata sang Imam tumpah. Dalam isak yang tersedu, ia melantunkan bait-bait syair yang kemudian menjadi abadi dalam sejarah literatur Islam:
Tatkala hatiku keras dan terasa sempit keyakinanku
Aku jadikan rasa harap pada Allah sebagai tanggaku
Betapa besar dosa yang ku perbuat, namun ketika aku bandingkan