Keteguhan Bani Tamim: Kaum yang Disebut Paling Sengit Melawan Dajjal
Miftah yusufpati
Kamis, 23 April 2026 - 16:00 WIB
Nabi menyebut Bani Tamim sebagai kaum yang paling gigih membela kebenaran di akhir zaman. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Madinah pada awal tahun ke-9 Hijriah sedang berada di puncak dinamika politiknya. Di tengah stabilitas yang mulai terbangun, sebuah rombongan besar dari pedalaman Arab datang dengan gaya yang tidak biasa. Mereka adalah Bani Tamim—sebuah kabilah besar yang garis nasabnya berujung pada Tamim bin Murr dari keturunan Ilyas bin Mudhar. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa, melainkan sebuah demonstrasi harga diri dan sastra.
Kisah kedatangan mereka diabadikan dengan apik dalam kitab Shahihus-Siratin-Nabawiyyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Mengacu pada catatan Ibnu Ishaq dan Ibnu Hajar, rombongan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh kuat seperti Aqra’ bin Habis, Utharid bin Hajib, hingga Qais bin Ashim. Motif utama kedatangan mereka sebenarnya adalah misi pembebasan tawaran setelah serangan Sariyah Uyainah bin Hisn. Namun, identitas mereka sebagai kaum badui yang keras dan egaliter tetap menonjol.
Begitu sampai di masjid, tanpa basa-basi, mereka berteriak-teriak dari balik kamar Rasulullah. "Wahai Muhammad! Kami datang untuk berbangga-bangga denganmu. Izinkan penyair dan orator kami berbicara!" seru mereka. Gaya bicara yang ceplas-ceplos dan cenderung kasar ini memicu turunnya teguran keras dari langit melalui Surat Al-Hujurat ayat 4:
إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
Bahkan, kedatangan rombongan ini sempat memantik tensi tinggi antara dua sahabat utama, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Keduanya berselisih tentang siapa yang layak menjadi pemimpin Bani Tamim hingga suara mereka meninggi di hadapan Nabi. Kejadian ini menjadi asbabun nuzul larangan meninggikan suara melebihi suara Nabi, sebuah etika yang menurut para ulama seperti Ibnu Katsir tetap berlaku secara maknawi meskipun Rasulullah telah wafat.
Laga dimulai ketika Utharid bin Hajib naik mimbar menyampaikan orasi yang memuja-muja kemuliaan Bani Tamim. Tak mau kalah, Zibriqan bin Badr menimpali dengan syair-syair kebanggaan kabilah. Rasulullah dengan tenang menanggapi tantangan kebudayaan ini. Beliau tidak menjawab dengan pedang, melainkan dengan sastra yang lebih tinggi. Tsabit bin Qais diinstruksikan sebagai orator tandingan, sementara Hassan bin Tsabit dipanggil khusus sebagai penyair pembela risalah.
Kisah kedatangan mereka diabadikan dengan apik dalam kitab Shahihus-Siratin-Nabawiyyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Mengacu pada catatan Ibnu Ishaq dan Ibnu Hajar, rombongan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh kuat seperti Aqra’ bin Habis, Utharid bin Hajib, hingga Qais bin Ashim. Motif utama kedatangan mereka sebenarnya adalah misi pembebasan tawaran setelah serangan Sariyah Uyainah bin Hisn. Namun, identitas mereka sebagai kaum badui yang keras dan egaliter tetap menonjol.
Begitu sampai di masjid, tanpa basa-basi, mereka berteriak-teriak dari balik kamar Rasulullah. "Wahai Muhammad! Kami datang untuk berbangga-bangga denganmu. Izinkan penyair dan orator kami berbicara!" seru mereka. Gaya bicara yang ceplas-ceplos dan cenderung kasar ini memicu turunnya teguran keras dari langit melalui Surat Al-Hujurat ayat 4:
إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
Bahkan, kedatangan rombongan ini sempat memantik tensi tinggi antara dua sahabat utama, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Keduanya berselisih tentang siapa yang layak menjadi pemimpin Bani Tamim hingga suara mereka meninggi di hadapan Nabi. Kejadian ini menjadi asbabun nuzul larangan meninggikan suara melebihi suara Nabi, sebuah etika yang menurut para ulama seperti Ibnu Katsir tetap berlaku secara maknawi meskipun Rasulullah telah wafat.
Laga dimulai ketika Utharid bin Hajib naik mimbar menyampaikan orasi yang memuja-muja kemuliaan Bani Tamim. Tak mau kalah, Zibriqan bin Badr menimpali dengan syair-syair kebanggaan kabilah. Rasulullah dengan tenang menanggapi tantangan kebudayaan ini. Beliau tidak menjawab dengan pedang, melainkan dengan sastra yang lebih tinggi. Tsabit bin Qais diinstruksikan sebagai orator tandingan, sementara Hassan bin Tsabit dipanggil khusus sebagai penyair pembela risalah.