Kemitraan Strategis RI–Korsel Perkuat Posisi Indonesia di Bidang Pertahanan dan Teknologi
Dwi sasongko
Kamis, 23 April 2026 - 15:13 WIB
Kemitraan Strategis RIKorsel Perkuat Posisi Indonesia di Bidang Pertahanan dan Teknologi
LANGIT7.ID-Jakarta Kerja sama strategis antara Indonesia dan Korea Selatan di bidang pertahanan, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keamanan siber, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) dinilai memiliki arti penting bagi penguatan posisi nasional Indonesia di tengah dinamika keamanan Indo-Pasifik.
Pakar pertahanan dan hubungan internasional Binus University Curie Maharani, Ph.D mengungkapkan hal tersebut saat pembukaan Lomba Menulis yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertema ‘’Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM’’ di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
‘’Meski Indonesia dan Korsel sama-sama bukan negara inovator teknologi pertahanan, Korsel bernilai strategis bagi Indonesia sebagai penyuplai, pemadu utama, dan kolaborator norma,’’ ungkap doktor Cranfield University, Inggris ini dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Curie menjelaskan dalam perspektif kepentingan nasional Indonesia, kerja sama strategis dengan Korsel membawa sejumlah potensi. Pertama, sebagai sumber akses bagi Indonesia untuk mendapatkan teknologi standar Barat dari tangan kedua. Kedua, Korsel sebagai raksasa baru industri pertahanan dunia dengan konsumen global, membutuhkan rantai suplai berdaya saing yang memungkinkan diisi oleh Indonesia. Ketiga, kedua negara memiliki konvergensi nilai yang menjunjung penggunaan AI yang bertanggung jawab di sektor pertahanan.
‘’Indonesia perlu menyusun strategi yang tepat untuk memaksimalkan potensi kemitraan dengan Korsel tersebut,’’ papar Curie yang menjadi salah satu juri dalam Lomba Menulis ISDS ini. Juri lainnya dari ISDS dan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto.
Dalam sektor pertahanan, Curie menyoroti kolaborasi pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae sebagai proyek strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia, meskipun ekspektasi awal perlu disesuaikan dengan realitas terkini.
“Pengembangan KF-21 tetap strategis meski mungkin manfaat yang akan didapat tidak sama seperti yang diperhitungkan di awal. Harapannya, penambahan mitra baru dalam pengembangan versi lanjutan KF-21 akan mengurangi cost share dan risiko kegagalan yang ditanggung kedua negara,” jelas Curie.
Pakar pertahanan dan hubungan internasional Binus University Curie Maharani, Ph.D mengungkapkan hal tersebut saat pembukaan Lomba Menulis yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertema ‘’Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM’’ di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
‘’Meski Indonesia dan Korsel sama-sama bukan negara inovator teknologi pertahanan, Korsel bernilai strategis bagi Indonesia sebagai penyuplai, pemadu utama, dan kolaborator norma,’’ ungkap doktor Cranfield University, Inggris ini dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Curie menjelaskan dalam perspektif kepentingan nasional Indonesia, kerja sama strategis dengan Korsel membawa sejumlah potensi. Pertama, sebagai sumber akses bagi Indonesia untuk mendapatkan teknologi standar Barat dari tangan kedua. Kedua, Korsel sebagai raksasa baru industri pertahanan dunia dengan konsumen global, membutuhkan rantai suplai berdaya saing yang memungkinkan diisi oleh Indonesia. Ketiga, kedua negara memiliki konvergensi nilai yang menjunjung penggunaan AI yang bertanggung jawab di sektor pertahanan.
‘’Indonesia perlu menyusun strategi yang tepat untuk memaksimalkan potensi kemitraan dengan Korsel tersebut,’’ papar Curie yang menjadi salah satu juri dalam Lomba Menulis ISDS ini. Juri lainnya dari ISDS dan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto.
Dalam sektor pertahanan, Curie menyoroti kolaborasi pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae sebagai proyek strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia, meskipun ekspektasi awal perlu disesuaikan dengan realitas terkini.
“Pengembangan KF-21 tetap strategis meski mungkin manfaat yang akan didapat tidak sama seperti yang diperhitungkan di awal. Harapannya, penambahan mitra baru dalam pengembangan versi lanjutan KF-21 akan mengurangi cost share dan risiko kegagalan yang ditanggung kedua negara,” jelas Curie.