LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026) di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Mata uang Indonesia ditutup menguat 114 poin ke level Rp17.944 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.058 per dolar AS.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat menguat hingga 120 poin sebelum akhirnya menetap di level tersebut pada penutupan pasar. Penguatan ini menjadi sinyal positif setelah sebelumnya rupiah beberapa kali tertekan hingga mencetak rekor terendah terhadap dolar AS.
Sentimen positif terhadap rupiah terutama datang dari kebijakan domestik yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia. Pelaku pasar menyambut baik keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa.
Kenaikan suku bunga tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi. Selain menopang kurs, kebijakan tersebut juga dinilai mendukung daya tarik instrumen surat utang pemerintah.
Kondisi tersebut turut membantu pemerintah dalam pelaksanaan lelang obligasi negara bertenor 10 tahun dengan tingkat imbal hasil sekitar 7,4 persen. Tingkat bunga yang lebih kompetitif diharapkan mampu menarik kembali minat investor asing maupun domestik untuk berpartisipasi dalam lelang Surat Utang Negara (SUN).
Dari sisi domestik, sentimen positif lainnya datang dari komitmen Danantara dalam pengelolaan ekspor komoditas strategis. Kepercayaan pasar semakin menguat setelah dana kekayaan negara tersebut memastikan tidak akan mengambil margin keuntungan atas ekspor komoditas strategis serta tetap menghormati kontrak-kontrak yang telah berjalan.
Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis juga diproyeksikan mampu memperkuat tata kelola, meningkatkan kepastian hukum, serta mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu aktivitas eksportir. Langkah tersebut dinilai dapat membantu meredam volatilitas ekonomi melalui pendekatan yang lebih transparan.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah mendapat dukungan dari sejumlah sentimen domestik yang dinilai mampu memperbaiki persepsi pasar terhadap Indonesia.
"Pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25bp menjadi 5,5% pada hari Selasa, yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026)
Menurut Ibrahim, kombinasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan perbaikan tata kelola sektor strategis berpotensi menjadi penyangga bagi rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berlangsung fluktuatif. Namun, peluang penguatan tetap terbuka apabila sentimen domestik terus mendominasi pasar.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 114 point sebelumnya sempat menguat 120 point dilevel Rp.17.944 dari penutupan sebelumnya di level Rp.18.058. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp. 17.900- Rp.18.950," ujar dia.
Sementara itu, dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan aset safe haven akibat memanasnya kembali situasi geopolitik di Timur Tengah.
Indeks dolar AS tercatat menguat pada perdagangan Rabu setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap target Iran menyusul jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Sebagai respons, Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan AS di Yordania serta beberapa negara Teluk.
Eskalasi terbaru tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait gangguan pasokan energi global. Sebelumnya, pasar sempat optimistis setelah Iran dan Israel menyepakati penghentian serangan menyusul seruan Presiden AS Donald Trump untuk meredakan konflik.
Fokus pelaku pasar kini kembali tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melintasi wilayah tersebut. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi dunia.
Kekhawatiran tersebut tercermin dari kenaikan harga minyak sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu. Kenaikan harga energi dikhawatirkan akan meningkatkan tekanan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat.
Di saat yang sama, pasar juga mencermati prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Ekspektasi inflasi yang masih tinggi membuat investor mengurangi peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Lebih dari 70 persen pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, memperkuat posisi dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.
Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat. Para ekonom memperkirakan inflasi tahunan AS meningkat menjadi sekitar 4,2 persen pada Mei, yang akan menjadi level tertinggi sejak April 2023.
Jika data inflasi sesuai atau bahkan melampaui ekspektasi pasar, peluang The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi menjaga kekuatan dolar AS sekaligus membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, dukungan dari kebijakan Bank Indonesia, stabilitas pasar obligasi domestik, dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pengelolaan sektor strategis nasional berpotensi menjadi faktor penyeimbang bagi rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan inflasi AS, arah kebijakan The Fed, serta dinamika geopolitik Timur Tengah sebagai penentu arah pasar selanjutnya.
(lam)