Penjelasan Hadits Safiyah: Menguak Misteri Setan dalam Aliran Darah Manusia
Miftah yusufpati
Senin, 27 April 2026 - 05:00 WIB
Pertempuran antara kebaikan dan keburukan bukan hanya terjadi di mimbar-mimbar dakwah atau medan peperangan fisik, melainkan di dalam sistem sirkulasi darah kita sendiri. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di bawah permukaan kulit manusia, terdapat jaringan pembuluh darah yang membentang sepanjang puluhan ribu kilometer, mengalirkan oksigen dan nutrisi ke setiap sel. Namun, dalam kosmologi Islam yang dipaparkan secara mendalam oleh Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar dalam kitabnya, Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, jalur transportasi biologis ini ternyata memiliki penumpang gelap yang tak kasat mata. Setan, musuh bebuyutan Bani Adam, disebut memiliki kemampuan untuk menyusup dan bergerak searah dengan aliran hemoglobin di urat nadi.
Dasar dari narasi yang menggetarkan ini berpijak pada sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Anas bin Malik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah.
Pernyataan ini bukan sekadar metafora puitis tentang godaan yang dekat, melainkan sebuah penegasan atas kemampuan fisik jin dan setan yang diberikan Allah untuk menjangkau titik-titik paling privat dalam tubuh manusia. Syaikh Al Asyqar menjelaskan bahwa karena asal penciptaan jin adalah dari unsur api yang sangat halus, mereka memiliki sifat permeabilitas yang memungkinkan mereka menembus pori-pori dan masuk ke dalam sistem sirkulasi manusia tanpa merusak jaringan fisik secara langsung.
Secara interpretatif, hadits ini muncul dalam konteks yang sangat manusiawi. Saat itu, Rasulullah sedang berjalan malam bersama istrinya, Safiyah binti Huyay. Ketika melewati dua orang sahabat, Nabi segera mengklarifikasi identitas perempuan di sampingnya agar tidak muncul prasangka. Beliau kemudian menjelaskan bahwa setan mampu menyusup melalui aliran darah untuk membisikkan prasangka buruk ke dalam hati manusia. Di sini, aliran darah menjadi medium bagi setan untuk mencapai jantung dan otak, dua pusat kendali emosi dan logika manusia.
Jika kita menilik literatur psikologi transpersonal, fenomena pengaruh eksternal terhadap kondisi internal sering dibahas dalam berbagai terminologi. Namun, penjelasan Syaikh Al Asyqar memberikan dimensi fisik pada gangguan spiritual tersebut. Dalam buku The Soul of the World (2014) karya Roger Scruton, dibahas mengenai hubungan antara tubuh dan kesadaran, namun Islam melalui lisan Nabi melangkah lebih jauh dengan mengidentifikasi adanya aktor luar yang masuk ke dalam mekanisme biologis tersebut untuk mengacaukan kesadaran moral.
Dasar dari narasi yang menggetarkan ini berpijak pada sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Anas bin Malik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah.
Pernyataan ini bukan sekadar metafora puitis tentang godaan yang dekat, melainkan sebuah penegasan atas kemampuan fisik jin dan setan yang diberikan Allah untuk menjangkau titik-titik paling privat dalam tubuh manusia. Syaikh Al Asyqar menjelaskan bahwa karena asal penciptaan jin adalah dari unsur api yang sangat halus, mereka memiliki sifat permeabilitas yang memungkinkan mereka menembus pori-pori dan masuk ke dalam sistem sirkulasi manusia tanpa merusak jaringan fisik secara langsung.
Secara interpretatif, hadits ini muncul dalam konteks yang sangat manusiawi. Saat itu, Rasulullah sedang berjalan malam bersama istrinya, Safiyah binti Huyay. Ketika melewati dua orang sahabat, Nabi segera mengklarifikasi identitas perempuan di sampingnya agar tidak muncul prasangka. Beliau kemudian menjelaskan bahwa setan mampu menyusup melalui aliran darah untuk membisikkan prasangka buruk ke dalam hati manusia. Di sini, aliran darah menjadi medium bagi setan untuk mencapai jantung dan otak, dua pusat kendali emosi dan logika manusia.
Jika kita menilik literatur psikologi transpersonal, fenomena pengaruh eksternal terhadap kondisi internal sering dibahas dalam berbagai terminologi. Namun, penjelasan Syaikh Al Asyqar memberikan dimensi fisik pada gangguan spiritual tersebut. Dalam buku The Soul of the World (2014) karya Roger Scruton, dibahas mengenai hubungan antara tubuh dan kesadaran, namun Islam melalui lisan Nabi melangkah lebih jauh dengan mengidentifikasi adanya aktor luar yang masuk ke dalam mekanisme biologis tersebut untuk mengacaukan kesadaran moral.