Pindah Posisi Gerbong Wanita Bukan Solusi, Pakar Bongkar Akar Masalah Transportasi Publik
Esti setiyowati
Rabu, 29 April 2026 - 19:45 WIB
Pindah Posisi Gerbong Wanita Bukan Solusi, Pakar Bongkar Akar Masalah Transportasi Publik. Foto: Ist.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiawan merespons gagasan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, tentang evaluasi penempatan gerbong khusus perempuan dalam rangkaian kereta api.
Menurut Radius, pernyataan Menteri PPPA perlu dipahami sebagai respons cepat berbasis mitigasi risiko, bukan sebagai solusi final atas persoalan keselamatan transportasi publik.
Baca juga:Polemik Gerbong Wanita, Islam Tekankan Keselamatan dan Keadilan untuk Semua
“Usulan itu penting. Tapi evaluasi tak boleh berhenti di posisi gerbong saja. Sistem keselamatan harus lebih serius, petugas harus sigap, akses evakuasi harus jelas, dan transportasi publik harus sensitif gender,” ujar Radius, seperti dikutip dari laman resmi UMSURA pada Rabu (29/4/2026).
Ia menambahkan bahwa gerbong khusus perempuan hadir sebagai bentuk afirmasi untuk memberikan rasa aman dari potensi pelecehan dan kekerasan di ruang publik. Namun, afirmasi tersebut tidak boleh direduksi menjadi sekadar persoalan teknis pemindahan posisi fisik.
“Gerbong perempuan itu penting sebagai bentuk perlindungan. Tetapi afirmasi ini jangan diterjemahkan semata soal memindahkan posisi gerbong,” tegasnya.
Radius kemudian menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang patut dikritisi. Pertama, narasi perlindungan bisa bersinggungan dengan praktik kontrol.
Menurut Radius, pernyataan Menteri PPPA perlu dipahami sebagai respons cepat berbasis mitigasi risiko, bukan sebagai solusi final atas persoalan keselamatan transportasi publik.
Baca juga:Polemik Gerbong Wanita, Islam Tekankan Keselamatan dan Keadilan untuk Semua
“Usulan itu penting. Tapi evaluasi tak boleh berhenti di posisi gerbong saja. Sistem keselamatan harus lebih serius, petugas harus sigap, akses evakuasi harus jelas, dan transportasi publik harus sensitif gender,” ujar Radius, seperti dikutip dari laman resmi UMSURA pada Rabu (29/4/2026).
Ia menambahkan bahwa gerbong khusus perempuan hadir sebagai bentuk afirmasi untuk memberikan rasa aman dari potensi pelecehan dan kekerasan di ruang publik. Namun, afirmasi tersebut tidak boleh direduksi menjadi sekadar persoalan teknis pemindahan posisi fisik.
“Gerbong perempuan itu penting sebagai bentuk perlindungan. Tetapi afirmasi ini jangan diterjemahkan semata soal memindahkan posisi gerbong,” tegasnya.
Radius kemudian menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang patut dikritisi. Pertama, narasi perlindungan bisa bersinggungan dengan praktik kontrol.