Suasana Stasiun Bekasi Timur, Penuh Empati dan Banjir Karangan Bunga Mengenang 16 Perempuan Tangguh
Lusi mahgriefie
Ahad, 03 Mei 2026 - 12:07 WIB
Suasana Stasiun Bekasi Timur, Penuh Empati dan Banjir Karangan Bunga Mengenang 16 Perempuan Tangguh
Suasana berbeda terasa di Stasiun Bekasi Timur. Tak tampak hiruk pikuk, tak ada suara gaduh, semua terasa lebih pelan dari biasanya. Di lantai dua, sepanjang kaca dekat akses masuk sebelum mesin tap, bunga-bunga mulai berjejer. Datang satu per satu, dibawa oleh orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal, namun merasakan hal yang sama.
Tidak ada yang memberi instruksi. Tidak ada yang mengatur. Namun ruang itu perlahan berubah menjadi tempat untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengirimkan doa.
Sebagian datang hanya untuk meletakkan bunga, lalu diam cukup lama. Sebagian menuliskan pesan singkat, seolah berbicara langsung kepada mereka yang dikenang.
Alesya, pengguna Commuter Line, sengaja datang pagi. Ia tidak mengenal para korban, tetapi langkahnya tetap membawanya ke sana.
"Saya setiap hari naik KRL. Entah kenapa rasanya dekat, seperti kehilangan teman perjalanan," ucapnya.
Di sisi lain, Kresna juga melakukan hal yang sama. Ia pun tidak mengenal siapa pun di antara korban.
"Tiap hari kita berangkat bareng, walau tidak saling sapa. Tapi rasanya tetap satu perjalanan," katanya.
Tidak ada yang memberi instruksi. Tidak ada yang mengatur. Namun ruang itu perlahan berubah menjadi tempat untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengirimkan doa.
Sebagian datang hanya untuk meletakkan bunga, lalu diam cukup lama. Sebagian menuliskan pesan singkat, seolah berbicara langsung kepada mereka yang dikenang.
Alesya, pengguna Commuter Line, sengaja datang pagi. Ia tidak mengenal para korban, tetapi langkahnya tetap membawanya ke sana.
"Saya setiap hari naik KRL. Entah kenapa rasanya dekat, seperti kehilangan teman perjalanan," ucapnya.
Di sisi lain, Kresna juga melakukan hal yang sama. Ia pun tidak mengenal siapa pun di antara korban.
"Tiap hari kita berangkat bareng, walau tidak saling sapa. Tapi rasanya tetap satu perjalanan," katanya.