CEO Xpeng: Lima Produsen Mobil China Akan Raih Pendapatan Triliunan Rupiah di Masa Depan
Dwi sasongko
Selasa, 05 Mei 2026 - 20:21 WIB
CEO Xpeng: Lima Produsen Mobil China Akan Raih Pendapatan Triliunan Rupiah di Masa Depan
LANGIT7.ID-Beijing; CEO Xpeng, He Xiaopeng, menyatakan bahwa lima produsen mobil China kemungkinan besar akan meraih pendapatan triliunan yuan di masa depan, dengan keuntungan hingga ratusan miliar yuan. Ia juga menyoroti masalah inovasi dalam industri, dengan menyebutkan ajang Beijing Auto Show 2026 sebagai contoh.
He Xiaopeng mengikuti program "Dialog" di China Central Television (CCTV) bersama pendiri sekaligus CEO Nio, William Li. Mereka berdua membahas pandangan mereka tentang industri kendaraan listrik serta berbagi visi perusahaan masing-masing.
Menurut CEO Xpeng, China kemungkinan akan memiliki lima produsen mobil besar, masing-masing menghasilkan pendapatan triliunan yuan dan laba ratusan miliar yuan. Berdasarkan perhitungan CarNewsChina, sebuah produsen mobil perlu menjual lebih dari 7 juta mobil per tahun. Namun, angka ini tergantung pada harga rata-rata kendaraan yang dijual. Saat ini, hanya lima produsen mobil global yang memiliki tingkat pendapatan serupa: Toyota, Volkswagen Group, Kia-Hyundai, Stellantis, dan General Motors.
He Xiaopeng tidak menyebutkan nama kelima perusahaan China tersebut. Namun, data tahun lalu menunjukkan bahwa BYD memiliki pendapatan tertinggi, yakni 803,9 miliar yuan (sekaraang setara dengan Rp1.811 kuadriliun). Lima besar juga mencakup SAIC (646,1 miliar yuan /Rp1.455 kuadriliun), Geely (345,2 miliar yuan /Rp777 triliun), Chery (300,2 miliar yuan /Rp676 triliun), dan GWM (222,8 miliar yuan /Rp502 triliun).
Involusi dan Teknologi EREV
He Xiaopeng juga mengungkapkan bahwa industri saat ini menghadapi masalah involusi di China. Industri tersebut akan memasuki tahap perkembangan yang sehat hanya ketika tidak ada lagi sekitar 150 peluncuran mobil baru sekaligus di Beijing Auto Show. Dalam skenario ini, Xpeng, Nio, dan Li Auto akan mampu meraih laba tahunan melebihi 50 miliar yuan (setara dengan Rp113 triliun).
He Xiaopeng juga mengakui bahwa Nio melakukan "perubahan besar" tahun lalu, dan ia senang melihat perusahaan sebesar itu dapat berubah dengan cepat. Namun, CEO Xpeng dan pendiri Nio memiliki pandangan berbeda mengenai teknologi EREV. He Xiaopeng menyatakan bahwa mobil jenis ini merupakan tahap transisi penting karena ketidakmerataan distribusi dan permintaan energi global. William Li menjawab bahwa Nio hanya fokus pada kendaraan listrik baterai (BEV), melihat dari perspektif tujuan akhir.
He Xiaopeng mengikuti program "Dialog" di China Central Television (CCTV) bersama pendiri sekaligus CEO Nio, William Li. Mereka berdua membahas pandangan mereka tentang industri kendaraan listrik serta berbagi visi perusahaan masing-masing.
Menurut CEO Xpeng, China kemungkinan akan memiliki lima produsen mobil besar, masing-masing menghasilkan pendapatan triliunan yuan dan laba ratusan miliar yuan. Berdasarkan perhitungan CarNewsChina, sebuah produsen mobil perlu menjual lebih dari 7 juta mobil per tahun. Namun, angka ini tergantung pada harga rata-rata kendaraan yang dijual. Saat ini, hanya lima produsen mobil global yang memiliki tingkat pendapatan serupa: Toyota, Volkswagen Group, Kia-Hyundai, Stellantis, dan General Motors.
He Xiaopeng tidak menyebutkan nama kelima perusahaan China tersebut. Namun, data tahun lalu menunjukkan bahwa BYD memiliki pendapatan tertinggi, yakni 803,9 miliar yuan (sekaraang setara dengan Rp1.811 kuadriliun). Lima besar juga mencakup SAIC (646,1 miliar yuan /Rp1.455 kuadriliun), Geely (345,2 miliar yuan /Rp777 triliun), Chery (300,2 miliar yuan /Rp676 triliun), dan GWM (222,8 miliar yuan /Rp502 triliun).
Involusi dan Teknologi EREV
He Xiaopeng juga mengungkapkan bahwa industri saat ini menghadapi masalah involusi di China. Industri tersebut akan memasuki tahap perkembangan yang sehat hanya ketika tidak ada lagi sekitar 150 peluncuran mobil baru sekaligus di Beijing Auto Show. Dalam skenario ini, Xpeng, Nio, dan Li Auto akan mampu meraih laba tahunan melebihi 50 miliar yuan (setara dengan Rp113 triliun).
He Xiaopeng juga mengakui bahwa Nio melakukan "perubahan besar" tahun lalu, dan ia senang melihat perusahaan sebesar itu dapat berubah dengan cepat. Namun, CEO Xpeng dan pendiri Nio memiliki pandangan berbeda mengenai teknologi EREV. He Xiaopeng menyatakan bahwa mobil jenis ini merupakan tahap transisi penting karena ketidakmerataan distribusi dan permintaan energi global. William Li menjawab bahwa Nio hanya fokus pada kendaraan listrik baterai (BEV), melihat dari perspektif tujuan akhir.