home masjid

Menembus Batas Kesadaran: Mengurai Gagasan Imam Al-Ghazali Melampaui Zaman

Rabu, 06 Mei 2026 - 16:32 WIB
Imam al-Ghazali telah menghasilkan sejumlah buku dan menerbitkan banyak ajaran. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Malam menjelang akhir November 1999, di sebuah sudut kota Surabaya, sebuah cetakan pertama dari sebuah karya terjemahan diterbitkan oleh Risalah Gusti. Buku berjudul Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat, yang diterjemahkan dari karya asli The Way of the Sufi karya Idries Shah, membawa sebuah pembacaan baru mengenai sosok yang sangat dihormati dalam dunia Islam dan filsafat, yakni Imam al-Ghazali. Buku ini mengawali diskursusnya dengan sebuah kutipan yang diambil oleh al-Ghazali dalam bukunya Book of Knowledge, atau yang kita kenal sebagai Kitab Ilmu dari karya agungnya Ihya Ulum al-Din. Al-Ghazali mengutip sebuah bait dari penyair besar Arab, al-Mutanabbi, yang berbunyi bahwa bagi orang yang sakit, air yang manis pun akan terasa pahit di dalam mulutnya.

Metafora tersebut digunakan dengan sangat brilian sebagai motto oleh Imam al-Ghazali untuk menggambarkan kondisi pikiran manusia. Delapan ratus tahun sebelum Ivan Pavlov merumuskan teori pengondisian perilaku, al-Ghazali telah menjelaskan dan menekankan, acapkali dalam perumpamaan yang menarik dan kadang dalam bahasa yang sangat modern, mengenai masalah pengondisian mental manusia. Ia menunjukkan bagaimana persepsi seseorang dapat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternalnya.

Kendati Pavlov dan lusinan laporan studi klinis mengenai perilaku manusia telah banyak diproduksi sejak Perang Korea, para siswa dan pengamat masalah pemikiran sering kali tidak menyadari kekuatan besar di balik indoktrinasi. Idries Shah dalam Jalan Sufi menggarisbawahi bahwa indoktrinasi, terutama dalam masyarakat totaliter, merupakan suatu ketetapan yang diinginkan dan selanjutnya menjadi keyakinan absolut masyarakat tersebut. Sebaliknya, dalam kelompok masyarakat lain, proses ini berjalan tanpa disadari dan sering kali dicurigai. Menurut al-Ghazali, ketidaksadaran inilah yang membuat hampir setiap orang sangat mudah diserang oleh indoktrinasi tersebut tanpa mereka sadari.

Karya-karya Imam al-Ghazali tidak hanya mendahului zamannya, tetapi juga melampaui pengetahuan kontemporer mengenai masalah-masalah psikologis dan sosial. Pada saat opini disampaikan secara tertulis, ia memisahkan apakah indoktrinasi terjadi secara jelas maupun terselubung, apakah hal tersebut diinginkan atau sebaliknya, dan apakah bersifat mutlak atau tidak.

Menurut al-Ghazali, orang-orang yang menciptakan kepercayaan atau keyakinan tersebut kemungkinan berada dalam keadaan terobsesi. Ia secara jelas menyatakan, sesuai dengan prinsip-prinsip sufi, bahwa hal itu bukannya tidak dapat dielakkan secara mutlak, tetapi menegaskan bahwa hal itu esensial bagi manusia agar dapat mengenalinya.

Dalam konteks pencarian kebenaran, Imam al-Ghazali pernah mengalami krisis epistemologi yang mendalam. Hal ini dicatat oleh sejarawan W. Montgomery Watt dalam studinya, Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali, yang menyoroti bagaimana al-Ghazali meninggalkan posisi akademisnya yang bergengsi di Baghdad untuk mencari kepastian spiritual. Watt mencatat bahwa al-Ghazali menyadari keterbatasan akal rasional murni dan memilih jalur tasawuf sebagai jalan untuk mencapai ma'rifat atau pengetahuan langsung dari Tuhan.

Keseimbangan antara akal dan hati menjadi inti dari ajarannya. Hal ini sejalan dengan konsep yang ia ajarkan mengenai pentingnya memahami diri sendiri sebelum memahami alam semesta dan Sang Pencipta. Dalam kitab Al-Munqidh min al-Dalal, ia mengutip atau mengacu pada prinsip yang sering dikaitkan dengan tradisi tasawuf:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya