LANGIT7.ID- Di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, kitab suci sering kali dipinggirkan dari ruang-ruang laboratorium dan perdebatan akademis. Seolah ada jurang pemisah antara wahyu dan sains. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, Al-Quran justru memuat fondasi yang sangat kuat mengenai hubungan ilmu dengan eksistensi kehidupan manusia di alam semesta ini.
Apa sebenarnya yang dikatakan Al-Quran tentang manusia? Dalam karyanya yang berjudul
Membumikan Al-Quran, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa manusia adalah entitas yang sangat sentral dalam ajaran Islam. Makhluk ini bahkan menjadi entitas pertama yang disebut dalam rangkaian wahyu pertama, yakni pada Surah Al-Alaq ayat satu hingga lima. Al-Quran memandang manusia bukan sebagai hasil kebetulan dari evolusi acak atau sekadar kumpulan atom materi, melainkan makhluk yang diciptakan untuk mengemban satu tugas penting, yakni sebagai khalifah di bumi. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةًWa idz qala rabbuka lil-mala'ikati inni ja'ilun fil-ardhi khalifah.
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.
Al-Quran juga memuji manusia sebagai makhluk yang paling tinggi kapasitasnya, namun pada saat yang sama dapat meluncur ke tempat yang sangat rendah jika mereka melupakan tujuan spiritualnya. Menurut Quraish Shihab, manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebagaimana tercantum dalam Surah At-Tin ayat empat:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍLaqad khalaqna al-insana fi ahsani taqwim.Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Pandangan ini sangat kontras dengan pandangan materialistis modern yang mereduksi hakikat manusia. Filsafat materialisme cenderung melihat realitas hanya sebatas apa yang dapat dijangkau oleh panca indra. Dalam karyanya
Jalan Sufi atau The Way of the Sufi, Idries Shah menguraikan pandangan Imam al-Ghazali mengenai hakikat pengetahuan manusia. Menurut al-Ghazali sebagaimana dikutip dalam karyanya, manusia sering kali terperangkap dalam pengondisian atau indoktrinasi lingkungan, yang membuat mereka mengacaukan antara opini dan pengetahuan sejati.
Al-Ghazali menegaskan bahwa manusia esensialnya adalah makhluk yang harus mampu mengenali kebenaran melampaui intelektualitas mekanis semata. Pandangan ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran spiritual. Jika manusia kehilangan dimensi transenden, ia akan kehilangan tujuan hidup dan terjebak dalam obsesi yang dangkal, yang pada akhirnya membawa manusia pada kehampaan.
Terkait dualitas manusia, Al-Quran menjelaskan secara ontologis bahwa manusia diciptakan dari tanah, yang kemudian disempurnakan dengan hembusan ruh dari Tuhan. Hal ini termaktub dalam Surah Shad ayat 71 hingga 72:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَIdz qala rabbuka lil-mala'ikati inni kholiqun basyaran min thin. Fa-idza sawwaituhu wa nafakhtu fihi min ruhihi faqa'u lahu sajidin.Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Dua elemen ini menciptakan dualitas dalam diri manusia. Elemen tanah membuat manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam material, seperti kebutuhan makan, minum, dan hasrat reproduksi. Sementara itu, elemen ruh mendorong manusia menuju tujuan yang nonmaterial dan transenden. Elemen inilah yang mengantarkan manusia pada pencarian keindahan, moralitas, pengorbanan, dan kesadaran akan keberadaan Yang Maha Sempurna.
Dalam bukunya yang berjudul
Knowledge and the Sacred, Seyyed Hossein Nasr juga menggarisbawahi bahwa pemisahan manusia dari akar spiritual telah menyebabkan hilangnya makna sakral kehidupan. Nasr menambahkan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya diperoleh melalui indra dan rasio, melainkan melalui iluminasi dan wahyu ilahi.
Al-Quran hadir untuk memberikan bingkai etika dan tujuan yang jelas bagi perjalanan manusia. Manusia dibekali dengan kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih jalannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِWa ma khalaqtu al-jinna wa al-insana illa liya'budun.
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Sebagai khalifah, manusia dibekali dengan potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan ke arah yang lebih baik. Alam raya telah ditundukkan dan dimudahkan untuk dimanfaatkan, dengan syarat manusia menggunakan petunjuk atau wahyu sebagai pelita dalam perjalanan tersebut.
Dengan berpegang pada pandangan ini, manusia akan menyadari bahwa ia berada dalam alam yang hidup dan bermakna, melampaui dimensi materi. Pada akhirnya, perdebatan antara filsafat materialisme dan pandangan wahyu mengenai manusia terletak pada arah tujuan akhir. Sementara materialisme berusaha menyeret manusia ke debu tanah tanpa tujuan transenden, Al-Quran justru mengajak manusia untuk meningkat dari debu tanah menuju Tuhan Yang Maha Esa.
(mif)