Al-Ghazali Kritik Budaya Pemujaan Tokoh dan Selebritis dalam Mencari Ilmu
Miftah yusufpati
Jum'at, 08 Mei 2026 - 04:00 WIB
Refleksi dari pemikiran al-Ghazali ini menjadi cermin bagi kita di tengah gempuran konten digital. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dunia modern hari ini barangkali sedang mabuk oleh apa yang kita sebut sebagai budaya selebritis. Di layar kaca hingga gawai di genggaman, sosok-sosok dengan pengikut jutaan menjadi rujukan utama dalam segala hal, mulai dari gaya hidup hingga persoalan moral dan agama. Namun, jauh sebelum algoritma media sosial mendikte selera publik, sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, telah memberikan peringatan keras mengenai daya tarik semu dari sebuah kemasyhuran.
Dalam buku Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat karya Idries Shah, yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, terdapat sebuah gugatan retoris yang sangat mendalam. Al-Ghazali mengajukan analogi yang tajam: jika seseorang terbebas dari terkaman singa buas, apakah ia akan peduli apakah penyelamatnya itu seorang pesohor atau orang biasa yang tidak dikenal? Tentu saja tidak. Fokus utama seharusnya adalah keselamatan itu sendiri, bukan siapa yang membawa keselamatan tersebut. Logika ini kemudian dibawa al-Ghazali ke dalam ranah pencarian ilmu: mengapa kita sibuk mencari pengetahuan hanya dari para selebritis atau mereka yang memiliki nama besar?
Kritik al-Ghazali ini bukan tanpa alasan. Dalam adikaryanya, Ihya Ulumuddin, ia membedah penyakit hati yang disebut jah atau haus akan kedudukan dan popularitas. Menurut al-Ghazali, banyak orang terjebak dalam prasangka bahwa kebenaran hanya milik mereka yang masyhur. Padahal, kemasyhuran sering kali menjadi tirai yang menutupi kekurangan seseorang atau bahkan menjadi beban yang merusak keikhlasan sang tokoh itu sendiri.
Dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Konsep Popularitas dalam Perspektif Tasawuf Al-Ghazali, disebutkan bahwa daya tarik selebritis sering kali memicu fenomena taklid buta. Publik cenderung menerima apa pun yang diucapkan oleh tokoh idola tanpa melakukan verifikasi atau tabayun. Al-Ghazali memandang ini sebagai kelemahan akal. Baginya, kebenaran memiliki substansi mandiri yang tidak bergantung pada siapa yang mengucapkannya.
Fenomena ini selaras dengan peringatan dalam Al-Quran mengenai kecenderungan manusia yang hanya mengikuti mayoritas atau mereka yang dianggap tinggi kedudukannya secara sosial tanpa landasan ilmu. Sebuah dalil yang relevan dalam konteks ini adalah:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra: 36).
Dalam buku Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat karya Idries Shah, yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, terdapat sebuah gugatan retoris yang sangat mendalam. Al-Ghazali mengajukan analogi yang tajam: jika seseorang terbebas dari terkaman singa buas, apakah ia akan peduli apakah penyelamatnya itu seorang pesohor atau orang biasa yang tidak dikenal? Tentu saja tidak. Fokus utama seharusnya adalah keselamatan itu sendiri, bukan siapa yang membawa keselamatan tersebut. Logika ini kemudian dibawa al-Ghazali ke dalam ranah pencarian ilmu: mengapa kita sibuk mencari pengetahuan hanya dari para selebritis atau mereka yang memiliki nama besar?
Kritik al-Ghazali ini bukan tanpa alasan. Dalam adikaryanya, Ihya Ulumuddin, ia membedah penyakit hati yang disebut jah atau haus akan kedudukan dan popularitas. Menurut al-Ghazali, banyak orang terjebak dalam prasangka bahwa kebenaran hanya milik mereka yang masyhur. Padahal, kemasyhuran sering kali menjadi tirai yang menutupi kekurangan seseorang atau bahkan menjadi beban yang merusak keikhlasan sang tokoh itu sendiri.
Dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Konsep Popularitas dalam Perspektif Tasawuf Al-Ghazali, disebutkan bahwa daya tarik selebritis sering kali memicu fenomena taklid buta. Publik cenderung menerima apa pun yang diucapkan oleh tokoh idola tanpa melakukan verifikasi atau tabayun. Al-Ghazali memandang ini sebagai kelemahan akal. Baginya, kebenaran memiliki substansi mandiri yang tidak bergantung pada siapa yang mengucapkannya.
Fenomena ini selaras dengan peringatan dalam Al-Quran mengenai kecenderungan manusia yang hanya mengikuti mayoritas atau mereka yang dianggap tinggi kedudukannya secara sosial tanpa landasan ilmu. Sebuah dalil yang relevan dalam konteks ini adalah:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra: 36).