Batas Tipis antara Iman dan Berhala: Ketidaktahuan Menjadi Pemicu Utama Praktik Politeisme di Dunia
Miftah yusufpati
Jum'at, 08 Mei 2026 - 17:00 WIB
Sejarah Ibrahim sebagai Bapak Tauhid mengajarkan bahwa iman bukan sekadar percaya akan adanya kekuatan gaib. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Ada satu lubang besar dalam sanubari manusia yang selalu minta diisi: rasa butuh akan perlindungan. Sejak purbakala, ketika petir menggelegar atau samudera mengamuk, manusia merasa kecil. Ketidakberdayaan ini melahirkan insting untuk mencari pegangan, sebuah penyebab utama di balik setiap fenomena yang melampaui nalar mereka. Inilah yang oleh para sosiolog agama disebut sebagai fitrah keberagamaan, namun dalam perjalanannya, fitrah ini sering kali tergelincir dalam kabut syirik.
Ja'far Subhani dalam bukunya Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa faktor utama yang menimbulkan penyembahan manusia kepada ciptaan adalah ketidaktahuan. Manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami, merasa harus mencari perlindungan pada suatu pemegang wewenang yang kuat, sang arsitek dari sistem alam yang unik ini. Namun, drama sejarah menunjukkan bahwa saat manusia menempuh jalan pencarian ini tanpa tuntunan para nabi sebagai pemandu Ilahi, mereka tersesat di persimpangan jalan.
Bukannya sampai pada Tuhan Yang Esa, tangan-tangan manusia justru meraba dalam gelap dan mendekap apa saja yang ada di hadapannya: hewan, benda-benda tak bernyawa, hingga sesama manusia yang dianggap memiliki karisma atau kekuatan lebih. Mereka membayangkan bahwa objek-objek inilah yang mereka cari-cari selama ini. Di sinilah berhala lahir, bukan sekadar sebagai patung kayu atau batu, melainkan sebagai manifestasi dari kegagalan nalar dalam menjangkau Yang Tak Terbatas.
Para nabi yang diutus ke muka bumi sebenarnya tidak datang untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Mengapa? Karena bagi masyarakat kuno sekalipun, keberadaan Sang Pencipta adalah fakta yang sudah diakui dalam kesadaran kolektif mereka. Masalahnya bukan pada ketiadaan Tuhan, melainkan pada banyaknya saingan yang mereka ciptakan untuk Tuhan.
Para ilmuwan yang mengkaji dakwah para nabi mengakui bahwa peran mendasar para utusan Tuhan adalah membebaskan manusia dari cengkeraman syirik atau politeisme. Tugas mereka adalah melakukan demitologisasi terhadap makhluk. Sebagaimana dikutip dari pemikiran Ja'far Subhani, para nabi datang untuk menegaskan: Allah yang kalian percayai itu adalah ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang.
Titik mula dakwah Nabi Muhammad SAW, misalnya, dirumuskan dalam kalimat La ilaha illallah. Kalimat ini secara semantik menunjukkan bahwa konsep Tuhan (ilah) sudah dikenal, namun subjek yang berhak menyandang gelar itu perlu dimurnikan. Dalam bahasa Arab, kalimat ini berarti:
لا إله إلا الله
Ja'far Subhani dalam bukunya Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa faktor utama yang menimbulkan penyembahan manusia kepada ciptaan adalah ketidaktahuan. Manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami, merasa harus mencari perlindungan pada suatu pemegang wewenang yang kuat, sang arsitek dari sistem alam yang unik ini. Namun, drama sejarah menunjukkan bahwa saat manusia menempuh jalan pencarian ini tanpa tuntunan para nabi sebagai pemandu Ilahi, mereka tersesat di persimpangan jalan.
Bukannya sampai pada Tuhan Yang Esa, tangan-tangan manusia justru meraba dalam gelap dan mendekap apa saja yang ada di hadapannya: hewan, benda-benda tak bernyawa, hingga sesama manusia yang dianggap memiliki karisma atau kekuatan lebih. Mereka membayangkan bahwa objek-objek inilah yang mereka cari-cari selama ini. Di sinilah berhala lahir, bukan sekadar sebagai patung kayu atau batu, melainkan sebagai manifestasi dari kegagalan nalar dalam menjangkau Yang Tak Terbatas.
Para nabi yang diutus ke muka bumi sebenarnya tidak datang untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Mengapa? Karena bagi masyarakat kuno sekalipun, keberadaan Sang Pencipta adalah fakta yang sudah diakui dalam kesadaran kolektif mereka. Masalahnya bukan pada ketiadaan Tuhan, melainkan pada banyaknya saingan yang mereka ciptakan untuk Tuhan.
Para ilmuwan yang mengkaji dakwah para nabi mengakui bahwa peran mendasar para utusan Tuhan adalah membebaskan manusia dari cengkeraman syirik atau politeisme. Tugas mereka adalah melakukan demitologisasi terhadap makhluk. Sebagaimana dikutip dari pemikiran Ja'far Subhani, para nabi datang untuk menegaskan: Allah yang kalian percayai itu adalah ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang.
Titik mula dakwah Nabi Muhammad SAW, misalnya, dirumuskan dalam kalimat La ilaha illallah. Kalimat ini secara semantik menunjukkan bahwa konsep Tuhan (ilah) sudah dikenal, namun subjek yang berhak menyandang gelar itu perlu dimurnikan. Dalam bahasa Arab, kalimat ini berarti:
لا إله إلا الله