Hadits Muslim Tegaskan Kewajiban Jemaah Haji Jaga Keramahan Selama di Tanah Suci
Miftah yusufpati
Senin, 18 Mei 2026 - 15:30 WIB
Edukasi mengenai aspek akhlak dan fiat sosial haji perlu diperkuat sejak masa manasik di tanah air. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sengatan matahari di sekitar Jabal Rahmah, Arafah, seolah sanggup melelehkan apa saja, termasuk kesabaran manusia. Di tengah lautan jutaan manusia yang bergerak dalam ritme yang sama, keletihan fisik adalah keniscayaan yang sulit ditolak. Namun, di tengah kepungan debu dan peluh, ada sebuah ibadah yang sering kali luput dari perhatian para jemaah, yaitu menjaga air muka agar tetap cerah dan memancarkan senyuman kepada sesama.
Berhaji bukan sekadar urusan ketangkasan fisik melempar jumrah atau kecepatan melangkah saat sai. Lebih dari itu, haji adalah ujian diplomasi spiritual antarmanusia yang datang dari berbagai belahan bumi dengan latar budaya yang sepenuhnya berbeda.
Dalam dimensi sosial ibadah haji, penampilan wajah yang ramah merupakan jembatan komunikasi yang paling efektif saat bahasa verbal tidak lagi mampu saling memahami. Sering kali, konflik-konflik kecil di pemondokan atau jalur tawaf meletus hanya karena teguran yang keras atau tatapan mata yang penuh kelelahan dan kejengkelan. Di sinilah letak relevansi pesan moral yang dibawa oleh para ulama klasik maupun kontemporer mengenai pentingnya menjaga harmoni sosial selama ritual suci berlangsung.
Nabi Muhammad bersabda,
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ
la tahqiranna minal marufi syaian walau an talqo akhoka biwajhin tholiq.
Pesan ini memiliki arti, janganlah kalian meremehkan kebaikan meskipun sedikit, sekalipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah ceria.
Berhaji bukan sekadar urusan ketangkasan fisik melempar jumrah atau kecepatan melangkah saat sai. Lebih dari itu, haji adalah ujian diplomasi spiritual antarmanusia yang datang dari berbagai belahan bumi dengan latar budaya yang sepenuhnya berbeda.
Dalam dimensi sosial ibadah haji, penampilan wajah yang ramah merupakan jembatan komunikasi yang paling efektif saat bahasa verbal tidak lagi mampu saling memahami. Sering kali, konflik-konflik kecil di pemondokan atau jalur tawaf meletus hanya karena teguran yang keras atau tatapan mata yang penuh kelelahan dan kejengkelan. Di sinilah letak relevansi pesan moral yang dibawa oleh para ulama klasik maupun kontemporer mengenai pentingnya menjaga harmoni sosial selama ritual suci berlangsung.
Nabi Muhammad bersabda,
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ
la tahqiranna minal marufi syaian walau an talqo akhoka biwajhin tholiq.
Pesan ini memiliki arti, janganlah kalian meremehkan kebaikan meskipun sedikit, sekalipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah ceria.