home global news

Pakar Ekonomi ITS Paparkan Upaya Mitigasi Pelemahan Nilai Rupiah

Rabu, 20 Mei 2026 - 14:23 WIB
Pakar ekonomi ITS Muhammad Ubaidillah Al Mustofa MSEI memaparkan mengenai upaya mitigasi terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Nilai tukar rupiah bergerak pada kondisi yang tidak stabil hingga menembus angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/5) lalu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku usaha, khususnya para importir hingga masyarakat luas. Menanggapi hal tersebut, pakar ekonomi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Muhammad Ubaidillah Al Mustofa MSEI memaparkan upaya mitigasi terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini.

Dosen Departemen Studi Pembangunan ITS tersebut menjelaskan, depresiasi nilai tukar rupiah dapat menjadi early warning indicator bagi kondisi perekonomian nasional. Menurutnya, pelemahan rupiah akan berdampak besar apabila ketergantungan terhadap barang impor masih tinggi. “Jika rupiah terus terdepresiasi sedangkan kebutuhan konsumsi masih didominasi produk impor, maka kondisi ini dapat merugikan perekonomian dalam jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026).

Lebih lanjut, dosen yang akrab disapa Ubaid tersebut mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik global seperti konflik di kawasan Timur Tengah dan potensi penutupan Selat Hormuz menyebabkan kenaikan harga minyak dan energi dunia. Kondisi tersebut juga berdampak pada meningkatnya harga berbagai komoditas utama yang bergantung pada perdagangan global, termasuk energi dan bahan baku industri.

Sementara itu, faktor internal berasal dari sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah di bidang industri dan investasi. Menurutnya, ketidakpastian kebijakan dapat memicu capital outflow atau keluarnya modal asing dari Indonesia. “Ketika investor menarik investasinya dalam bentuk dolar AS, maka permintaan dolar meningkat dan nilai rupiah semakin tertekan,” jelasnya.

Grafik pergerakan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 14 – 18 Mei 2026 (sumber data dari Google Finance)

Meski demikian, Ubaid menilai kondisi ekonomi Indonesia pada level grassroot masih relatif kuat karena ditopang oleh sektor usaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia menyebutkan, kekuatan konsumsi domestik dan aktivitas UMKM dapat menjadi penyangga perekonomian di tengah tekanan ekonomi global.

Namun demikian, ia menekankan perlunya program peningkatan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar internasional. “UMKM perlu naik kelas, memiliki pasar ekspor, dan mampu bersaing secara global,” tegasnya mengingatkan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya