Menjaga Putihnya Lembaran Baru: Ujian Sosial Gelar Haji
Miftah yusufpati
Kamis, 21 Mei 2026 - 03:30 WIB
Kepulangan jemaah haji adalah sebuah awal, bukan akhir. Ilustrasi: Pikiran Rakyat
LANGIT7.ID-Aroma air mawar dan lambaian selendang menyambut kedatangan para jemaah haji di bandara. Isak tangis haru keluarga pecah, menandai berakhirnya perjalanan panjang memenuhi panggilan Baitullah.
Setelah berminggu-minggu menembus cuaca ekstrem Jazirah Arab, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, hingga melontar jumrah di Mina, mereka kembali ke rutinitas semula.
Namun, di balik kemeriahan ritual penyambutan itu, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang sifatnya eksistensial: apa yang terjadi pada diri seorang manusia setelah menyandang gelar haji?
Perjalanan haji sering kali digambarkan sebagai proses pembersihan total. Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya yang diterjemahkan oleh Syafar Abu Difa, Risalah ila Ahli Arafah wa Muzdalifah wa Mina, mengingatkan kembali janji agung yang dibawa oleh Rasulullah. Kutipan teks klasik tersebut menegaskan keutamaan ibadah ini melalui hadis Nabi Muhammad:
مَا أَهَلَّ مُهَلِّ وَلاَ كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطّ إِلاَّ بُشِّرَ باِلْجَنَّةِ
Artinya: Tidaklah bertalbiah orang yang bertalbiah atau bertakbir orang yang bertakbir melainkan diberikan berita gembira kepadanya dengan surga. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Jami as-Shaghir nomor 5445.
Tidak hanya itu, setiap langkah kaki unta tunggangan jemaah pun dinilai sebagai penghapus dosa dan pengangkat derajat, sebagaimana terekam dalam hadis lain yang menyatakan bahwa tidaklah unta tunggangan mengangkat kaki belakang atau menurunkan kaki depannya, melainkan Allah mencatat satu kebaikan, menghapus satu kekurangan, atau mengangkat satu derajatnya. Sumber teks ini berasal dari kompilasi hadis Shahih al-Jami as-Shaghir nomor 572 yang diterbitkan oleh IslamHouse pada tahun 2009.
Setelah berminggu-minggu menembus cuaca ekstrem Jazirah Arab, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, hingga melontar jumrah di Mina, mereka kembali ke rutinitas semula.
Namun, di balik kemeriahan ritual penyambutan itu, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang sifatnya eksistensial: apa yang terjadi pada diri seorang manusia setelah menyandang gelar haji?
Perjalanan haji sering kali digambarkan sebagai proses pembersihan total. Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya yang diterjemahkan oleh Syafar Abu Difa, Risalah ila Ahli Arafah wa Muzdalifah wa Mina, mengingatkan kembali janji agung yang dibawa oleh Rasulullah. Kutipan teks klasik tersebut menegaskan keutamaan ibadah ini melalui hadis Nabi Muhammad:
مَا أَهَلَّ مُهَلِّ وَلاَ كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطّ إِلاَّ بُشِّرَ باِلْجَنَّةِ
Artinya: Tidaklah bertalbiah orang yang bertalbiah atau bertakbir orang yang bertakbir melainkan diberikan berita gembira kepadanya dengan surga. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Jami as-Shaghir nomor 5445.
Tidak hanya itu, setiap langkah kaki unta tunggangan jemaah pun dinilai sebagai penghapus dosa dan pengangkat derajat, sebagaimana terekam dalam hadis lain yang menyatakan bahwa tidaklah unta tunggangan mengangkat kaki belakang atau menurunkan kaki depannya, melainkan Allah mencatat satu kebaikan, menghapus satu kekurangan, atau mengangkat satu derajatnya. Sumber teks ini berasal dari kompilasi hadis Shahih al-Jami as-Shaghir nomor 572 yang diterbitkan oleh IslamHouse pada tahun 2009.