home masjid

Struktur Ekonomi dan Praktik Ritual Jemaah Haji Era Jahiliyah: Tawaf Tanpa Busana

Kamis, 21 Mei 2026 - 04:00 WIB
Islam tidak menghancurkan institusi haji secara keseluruhan, melainkan melakukan dekonstruksi terhadap praktik syirik. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Lembah Mekah pada bulan-bulan haram tidak pernah sepi. Jauh sebelum bendera Islam berkibar di Jazirah Arab, rute-rute pasir yang membelah gurun selalu dipenuhi oleh rombongan unta yang bergerak menuju satu titik yang sama: Rumah Tua atau Baitul Atiq. Namun, pemandangan haji pada masa jahiliyah menyuguhkan kontras yang tajam bagi nalar modern.

Di satu sisi, ada pengagungan terhadap tempat suci, tetapi di sisi lain, aroma perniagaan, perjudian spiritual, hingga ritus tanpa busana mendominasi sekeliling berhala-berhala yang mengepung Kaabah.

Pada masa tersebut, masyarakat Arab membagi jemaah haji menjadi dua kelompok besar yang memiliki orientasi berbeda, yaitu kelompok pedagang dan kelompok nonpedagang.

Pengelompokan ini memperlihatkan bagaimana dimensi ekonomi telah menyatu dengan ritual keagamaan dalam struktur yang sangat rapi. Bagi jemaah haji pedagang, perjalanan spiritual adalah sebuah sirkuit logistik yang panjang. Mereka tidak bisa mendadak datang ke Mekah. Keberangkatan harus dirancang sejak hilal bulan sebelum datangnya bulan haji mula tampak di ufuk barat.

Sebagai contoh, para pedagang ini sudah harus mengemasi barang dagangan dan meninggalkan negeri asal mereka pada permulaan bulan Dzulqaidah jika ibadah haji jatuh pada bulan Dzulhijjah. Target utama mereka dalam penanggalan ini bukanlah langsung mengitari Kaabah, melainkan singgah dan berpartisipasi dalam pasar-pasar khusus yang melegenda di seantero jazirah.

Perjalanan pertama mereka arahkan menuju pasar Ukaz. Di pasar ini, energi jemaah terkuras untuk berdagang, bernegosiasi, bahkan menyaksikan festival sastra dan pembacaan puisi antar-suku yang berlangsung selama dua hari.

Dari Ukaz, denyut nadi ekonomi bergerak ke destinasi berikutnya. Rombongan haji pedagang akan melanjutkan perjalanan menuju Majnah. Di tempat ini, mereka menggelar lapak dan melakukan transaksi dagang selama sepuluh hari penuh setelah hilal bulan Dzulhijjah menampakkan diri. Ketika pasar Majnah resmi ditutup, hiruk-pikuk belum berakhir.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya