home masjid

Manuskrip Sejarah Banten Terkait Misi Diplomasi Ibadah Haji Abad Ke-17

Jum'at, 22 Mei 2026 - 17:48 WIB
Pengorbanan harta dan risiko kehilangan nyawa di tengah laut tidak pernah menyurutkan langkah mereka. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Jauh sebelum riuh rendah antrean birokrasi haji modern menyita perhatian publik, pelabuhan Kesultanan Banten pada abad ke-17 telah menjadi saksi bagaimana rukun Islam kelima dimainkan sebagai instrumen geopolitik tingkat tinggi.

Di dermaga yang sibuk oleh lalu lintas kapal jung Tiongkok, armada Arab, dan kapal dagang Eropa, keberangkatan seorang jemaah haji bukan sekadar urusan pembersihan jiwa. Bagi penguasa Banten, samudra luas yang memisahkan Jawa dan Jazirah Arab adalah sirkuit diplomasi untuk mencari kedaulatan, sekaligus membentengi negeri dari cengkeraman kolonialisme Barat yang mulai menjangkari Nusantara.

Titik balik ketegangan di pesisir Banten bermula ketika empat kapal Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman membuang sauh di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Rombongan penjelajah ini berhasil menemukan jalur laut langsung dari Eropa melalui Tanjung Harapan, membuka keran perdagangan rempah-rempah yang kelak memicu lahirnya kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602.

Kehadiran kompeni Belanda tidak hanya mengubah peta niaga, tetapi juga menantang kedaulatan politik kesultanan-kesultanan Islam. Dalam situasi terjepit ini, Mekah tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat berdirinya Kabah, melainkan sebagai pusat gravitasi dunia yang mampu memberikan legitimasi politik tertinggi untuk melawan penetapan monopoli asing.

Berdasarkan naskah kuno Sajarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, yang merupakan terjemahan bebas dari Hikayat Banten Rante-Rante buatan tahun 1662-1663, tradisi berhaji di kalangan penguasa Banten telah mengakar kuat sejak awal berdirinya kesultanan.

Manuskrip tersebut mencatat bahwa pendiri dinasti, Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dan putranya, Maulana Hasanuddin, sempat menunaikan ibadah haji bersama-sama ke tanah suci. Perjalanan lintas samudra ini dipenuhi kebulatan tekad untuk menjalankan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 196: Wa-atimmul-hajja wal-umrata lillah. Artinya: Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.

Bagi Maulana Hasanuddin, sekembalinya dari Mekah dengan bekal spiritual dan jaringan internasional yang baru, ia mendirikan Kesultanan Banten secara mandiri dan dinobatkan sebagai Sultan Banten yang pertama.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya