Di Balik Debat Mina: Menakar Konsistensi Sikap Islam Atas Doktrin Ahli Kitab
Miftah yusufpati
Selasa, 26 Mei 2026 - 04:35 WIB
Ketegasan politik dalam Surah At-Taubah bukanlah sebuah kebencian buta. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Musim haji tahun kesembilan Hijriah di Lembah Mina mencatatkan sebuah dinamika politik keagamaan yang sangat tinggi. Ketika Ali bin Abi Thalib membacakan ayat-ayat awal Surah At-Taubah atas perintah Nabi Muhammad, gaung maklumat itu tidak hanya menyapu sisa-sisa paganisme di tanah Arab, tetapi juga membawa pesan teologis yang sangat tegas kepada komunitas Ahli Kitab.
Di titik inilah, sejarah mencatat adanya sebuah fase baru dalam hubungan geopolitik antara Madinah dan kaum Nasrani. Sebuah fase yang oleh sebagian pengamat barat dianggap sebagai titik balik yang ekstrem.
Dalam buku monumental Sejarah Hidup Muhammad, karya sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dinamika ini dibedah secara mendalam.
Ayat-ayat Surah At-Taubah yang dibacakan oleh Ali secara gamblang mengarahkan tujuannya kepada pihak Nasrani, sebuah ketegasan yang sebelumnya telah ditujukan kepada pihak Yahudi di Madinah. Dalam konteks wahyu tersebut, orang-orang Nasrani digolongkan ke dalam kelompok mereka yang tidak percaya kepada Allah dan kepada Hari Kemudian, karena tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan tidak beragama dengan agama yang benar.
Ketegasan politik dan teologis pada akhir masa kenabian ini memicu polemik di kalangan sarjana barat. Para orientalis mempertanyakan konsistensi sikap Islam. Mereka melihat adanya kontradiksi besar karena maklumat keras ini dikeluarkan justru setelah pihak Nasrani memberikan jasa sejarah yang sangat besar bagi umat Islam. Sejarah mencatat, kaum Nasrani di bawah naungan Raja Najasyi yang adil di Abisinia atau Ethiopia telah memberikan perlindungan menyeluruh kepada para sahabat Nabi yang hijrah mencari keselamatan dari siksaan kaum musyrik Mekah. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga telah menulis surat diplomatik kepada penduduk Najran dan kaum Nasrani lainnya, yang isinya memberikan jaminan keamanan atas agama, jiwa, properti, serta segala upacara keagamaan yang mereka lakukan.
Berdasarkan fakta-fakta historis pra-At-Taubah tersebut, golongan orientalis kemudian berpendapat bahwa terdapat sikap kontradiksi dalam siasat Muhammad. Menurut analisis mereka, perubahan sikap politik inilah yang di kemudian hari memicu permusuhan yang berlarut-larut antara pihak Muslimin dengan Nasrani. Mereka menyimpulkan bahwa ketegasan dalam Surah At-Taubah telah membuat upaya saling pendekatan antara pengikut-pengikut Yesus dengan pengikut-pengikut Muhammad menjadi tidak begitu mudah, bahkan ada yang menilainya sebagai sesuatu yang mustahil.
Konsistensi Ketauhidan Sejak Fajar Risalah
Di titik inilah, sejarah mencatat adanya sebuah fase baru dalam hubungan geopolitik antara Madinah dan kaum Nasrani. Sebuah fase yang oleh sebagian pengamat barat dianggap sebagai titik balik yang ekstrem.
Dalam buku monumental Sejarah Hidup Muhammad, karya sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dinamika ini dibedah secara mendalam.
Ayat-ayat Surah At-Taubah yang dibacakan oleh Ali secara gamblang mengarahkan tujuannya kepada pihak Nasrani, sebuah ketegasan yang sebelumnya telah ditujukan kepada pihak Yahudi di Madinah. Dalam konteks wahyu tersebut, orang-orang Nasrani digolongkan ke dalam kelompok mereka yang tidak percaya kepada Allah dan kepada Hari Kemudian, karena tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan tidak beragama dengan agama yang benar.
Ketegasan politik dan teologis pada akhir masa kenabian ini memicu polemik di kalangan sarjana barat. Para orientalis mempertanyakan konsistensi sikap Islam. Mereka melihat adanya kontradiksi besar karena maklumat keras ini dikeluarkan justru setelah pihak Nasrani memberikan jasa sejarah yang sangat besar bagi umat Islam. Sejarah mencatat, kaum Nasrani di bawah naungan Raja Najasyi yang adil di Abisinia atau Ethiopia telah memberikan perlindungan menyeluruh kepada para sahabat Nabi yang hijrah mencari keselamatan dari siksaan kaum musyrik Mekah. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga telah menulis surat diplomatik kepada penduduk Najran dan kaum Nasrani lainnya, yang isinya memberikan jaminan keamanan atas agama, jiwa, properti, serta segala upacara keagamaan yang mereka lakukan.
Berdasarkan fakta-fakta historis pra-At-Taubah tersebut, golongan orientalis kemudian berpendapat bahwa terdapat sikap kontradiksi dalam siasat Muhammad. Menurut analisis mereka, perubahan sikap politik inilah yang di kemudian hari memicu permusuhan yang berlarut-larut antara pihak Muslimin dengan Nasrani. Mereka menyimpulkan bahwa ketegasan dalam Surah At-Taubah telah membuat upaya saling pendekatan antara pengikut-pengikut Yesus dengan pengikut-pengikut Muhammad menjadi tidak begitu mudah, bahkan ada yang menilainya sebagai sesuatu yang mustahil.
Konsistensi Ketauhidan Sejak Fajar Risalah