home global news

Dua Dekade Lumpur Sidoarjo, Pakar ITS Tekankan Urgensi Biomonitoring

Sabtu, 30 Mei 2026 - 16:34 WIB
Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi ketika menjelaskan pengaruh pengaliran Lumpur Sidoarjo ke Sungai Porong terhadap kondisi perairan dan biota air di sekitarnya. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Tepat pada 29 Mei ini genap 20 tahun fenomena semburan lumpur melanda sebagian wilayah di Kabupaten Sidoarjo. Selama itu pula, telah dilakukan penanganan pengaliran lumpur ke Sungai Porong yang tentunya menyebabkan perubahan karakteristik lingkungan, terutama pada ekosistem di sekitarnya.

Menanggapi fenomena tersebut, pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan dari Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi memaparkan kajian kelayakan ekologis melalui indikator biologis pada ikan sebagai basis mitigasi jangka panjang. Guru Besar ke-166 ITS tersebut menjelaskan bahwa Sungai Porong menerima beban efluen luapan material padat dalam volume besar tanpa pengolahan.

Menurutnya, aliran pekat yang didominasi tanah liat lembut ini perlahan mengubur dasar perairan yang awalnya berupa pasir dan kerikil menjadi hamparan lumpur. "Sedimentasi masif ini memicu lonjakan kekeruhan air atau Total Suspended Solids (TSS) secara ekstrem di sepanjang aliran sungai dan perubahan komposisi substrat secara nyata," terangnya dalam keterangan resmi, Sabtu (30/5/2026).

Pekatnya kandungan material lumpur di dalam air secara langsung menurunkan tingkat keberlangsungan hidup biota air karena kegagalan fungsi insang. Melalui analisis mikroskopik, partikel halus berukuran kurang dari 10 mikron terbukti menempel erat hingga menyumbat filamen insang. "Paparan ini memicu kerusakan jaringan insang yang parah, seperti hiperplasia dan nekrosis sel," paparnya.

Dampak buruk kontaminan lumpur ternyata tidak hanya menyerang organ insang, melainkan juga merusak struktur pelindung luar pada tubuh ikan. Menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), Dewi menemukan adanya kerusakan mikrostruktur sisik ikan. "Deformasi pada sel penempel (seferul) menyebabkan sisik ikan menjadi abnormal, mudah terlepas, dan rentan memicu infeksi mikroorganisme," urainya.

Kondisi Sungai Porong sejak dijadikan lokasi pembuangan lumpur Sidoarjo (sumber: detik.com)Kendati tekanan abiotik berlangsung masif, hasil biomonitoring merekam adanya proses suksesi alami berupa pergeseran komposisi jenis ikan. Siltasi efluen lumpur perlahan mengeliminasi kehadiran ikan-ikan lokal yang sensitif dan tidak toleran terhadap kekeruhan. "Ekosistem hilir kini mulai didominasi oleh spesies tangguh yang mampu beradaptasi di habitat berlumpur seperti ikan keting (Mystus gulio), belanak (Mugil cephalus), dan beloso (Saurida tumbil)," ungkapnya.

Untuk wilayah perikanan di sekitar muara perairan, kondisi pertambakan seperti tambak udang masih relatif aman untuk dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan adanya penghalang daratan alami yang berfungsi sebagai penyaring mekanis luapan material lumpur secara langsung. "Keberadaan bentang alam ini menjaga komoditas pangan masyarakat yang berada agak jauh dari titik semburan tetap higienis," jelasnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya