Pulang Haji: Jaga Konsistensi Ibadah Setelah Tiba di Tanah Air
Miftah yusufpati
Kamis, 04 Juni 2026 - 15:00 WIB
Keberhasilan menunaikan ibadah haji kerap dipandang sebagai simbol kesuksesan material dan legitimasi kelas sosial baru yang dihormati. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Saat ini jemaah haji mulai kembali ke Tanah Air. Di balik keriuhan seremoni penyambutan, ada sebuah pertanyaan esensial yang membayangi setiap langkah kaki yang kembali menginjak bumi Nusantara: apakah ketaatan akan menjadi terhenti saat jemaah pulang menuju tanah air?
Ketika berada di tanah suci, jemaah melewati hari-hari yang penuh dengan ibadah dan musim-musim pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala.
Berdiri di hadapan Baitullah yang agung, meresapi kehebatan hari Arafah, serta mengagumi hari-hari di Mina adalah momen yang sangat membahagiakan.
Namun, risalah berjudul Mada Bad Al-Hajj yang disusun oleh Divisi Ilmiah Dar Al-Qasim dan diterjemahkan oleh Muhammad Lutfi Firdaus mengingatkan jemaah agar tidak menggantikan kondisi spiritual yang mulia tersebut dengan kelalaian setelah tiba di rumah.
Setiap jemaah diharapkan mampu membuka lembaran baru dalam kehidupan dan konsisten dalam ketaatan demi meraih ciri haji mabrur.
Terkait hal ini, ulama terkemuka Al-Hasan al-Bashari rahimahullah memberikan batasan yang jernih. Beliau menyatakan bahwa haji mabrur adalah ketika orang yang melaksanakan ibadah haji pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan senang terhadap akhirat.
Ungkapan ini diperkuat oleh pandangan sebagian ulama yang menyebutkan bahwa di antara tanda haji mabrur adalah hal itu tampak di akhir perjalanannya. Jika seseorang pulang menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, maka diketahuilah bahwa ia telah mendapatkan haji mabrur.
Ketika berada di tanah suci, jemaah melewati hari-hari yang penuh dengan ibadah dan musim-musim pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala.
Berdiri di hadapan Baitullah yang agung, meresapi kehebatan hari Arafah, serta mengagumi hari-hari di Mina adalah momen yang sangat membahagiakan.
Namun, risalah berjudul Mada Bad Al-Hajj yang disusun oleh Divisi Ilmiah Dar Al-Qasim dan diterjemahkan oleh Muhammad Lutfi Firdaus mengingatkan jemaah agar tidak menggantikan kondisi spiritual yang mulia tersebut dengan kelalaian setelah tiba di rumah.
Setiap jemaah diharapkan mampu membuka lembaran baru dalam kehidupan dan konsisten dalam ketaatan demi meraih ciri haji mabrur.
Terkait hal ini, ulama terkemuka Al-Hasan al-Bashari rahimahullah memberikan batasan yang jernih. Beliau menyatakan bahwa haji mabrur adalah ketika orang yang melaksanakan ibadah haji pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan senang terhadap akhirat.
Ungkapan ini diperkuat oleh pandangan sebagian ulama yang menyebutkan bahwa di antara tanda haji mabrur adalah hal itu tampak di akhir perjalanannya. Jika seseorang pulang menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, maka diketahuilah bahwa ia telah mendapatkan haji mabrur.