home masjid

Efek Psikologis Salat Melawan Patologi Kapitalisme

Selasa, 09 Juni 2026 - 05:37 WIB
Ibadah yang ikhlas tidak hanya mengantarkan jiwa pada ketenteraman rohani, melainkan juga memancarkan keadilan distributif dan kesetaraan sosial yang hakiki di panggung peradaban dunia. Ist
LANGIT7.ID-Peradaban modern yang didominasi oleh corak berpikir antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat dari segala eksistensi. Dampak psikologis dari paradigma ini adalah lahirnya individu-individu yang mengidap keangkuhan eksistensial akut.

Manusia modern merasa mampu menaklukkan alam, mengontrol sumber daya, serta menentukan arah sejarah tanpa membutuhkan intervensi transendental. Namun, di dalam struktur teologi Islam, kesombongan rasional tersebut didekonstruksi secara total melalui instrumen ibadah harian yang bernama salat.

Ketika seorang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah mendirikan sembahyang, ia akan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang konkret di dalam sistem kognisinya.

Melalui kekhusyukan ritual, ia secara konsisten dipaksa menyadari bahwa dirinya hanyalah sesuatu yang sangat kecil, lemah, dan fana berhadapan dengan kebesaran Allah Yang Maha Agung.

Pengalaman psikologis mengenai pengikisan ego manusia ini dibahas secara analitis dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.

Melalui cetakan kelima yang dirilis pada tahun 1980, Haekal menyajikan sebuah analogi empiris yang sangat memikat guna menggambarkan skala eksistensi manusia.

Apabila seorang manusia berada di dalam pesawat terbang pada ketinggian satu atau beberapa ribu meter di atas permukaan laut, ia akan menyaksikan gunung-gunung, bentangan sungai, serta kompleks perkotaan berubah wujud menjadi gejala-gejala spasial yang sangat kecil di atas bumi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya