Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 31 Juli 2026
home masjid detail berita

Efek Psikologis Salat Melawan Patologi Kapitalisme

miftah yusufpati Selasa, 09 Juni 2026 - 05:37 WIB
Efek Psikologis Salat Melawan Patologi Kapitalisme
Ibadah yang ikhlas tidak hanya mengantarkan jiwa pada ketenteraman rohani, melainkan juga memancarkan keadilan distributif dan kesetaraan sosial yang hakiki di panggung peradaban dunia. Ist
LANGIT7.ID-Peradaban modern yang didominasi oleh corak berpikir antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat dari segala eksistensi. Dampak psikologis dari paradigma ini adalah lahirnya individu-individu yang mengidap keangkuhan eksistensial akut.

Manusia modern merasa mampu menaklukkan alam, mengontrol sumber daya, serta menentukan arah sejarah tanpa membutuhkan intervensi transendental. Namun, di dalam struktur teologi Islam, kesombongan rasional tersebut didekonstruksi secara total melalui instrumen ibadah harian yang bernama salat.

Ketika seorang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah mendirikan sembahyang, ia akan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang konkret di dalam sistem kognisinya.

Melalui kekhusyukan ritual, ia secara konsisten dipaksa menyadari bahwa dirinya hanyalah sesuatu yang sangat kecil, lemah, dan fana berhadapan dengan kebesaran Allah Yang Maha Agung.

Pengalaman psikologis mengenai pengikisan ego manusia ini dibahas secara analitis dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.

Melalui cetakan kelima yang dirilis pada tahun 1980, Haekal menyajikan sebuah analogi empiris yang sangat memikat guna menggambarkan skala eksistensi manusia.

Apabila seorang manusia berada di dalam pesawat terbang pada ketinggian satu atau beberapa ribu meter di atas permukaan laut, ia akan menyaksikan gunung-gunung, bentangan sungai, serta kompleks perkotaan berubah wujud menjadi gejala-gejala spasial yang sangat kecil di atas bumi.

Seluruh pemandangan makro tersebut terpampang di depan mata seperti jalur-jalur garis yang tertera di atas selembar peta topografi.

Dari ketinggian tersebut, permukaan bumi seolah-olah sudah rata mendatar. Perbedaan ketinggian antara puncak gunung dan bangunan pencakar langit yang paling tinggi dengan ngarai, sumur, atau palung sungai yang paling rendah menjadi tidak lagi terlihat secara kasat mata.

Gradasi warna alam sambung-menyambung, saling berkait, serta tercampur secara integral. Semakin tinggi pesawat tersebut terbang, warna-warna geografis itu makin melebur menjadi satu kesatuan.

Pengamatan aeronautika ini membawa manusia pada kesimpulan astronomis bahwa seluruh planet bumi yang dihuni oleh miliaran manusia ini tidak lebih dari sebuah planet kecil yang mengapung di ruang hampa.

Di dalam konstelasi galaksi, terdapat ribuan tata surya dan miliaran planet lainnya. Seluruh materi fisik tersebut tidak lebih dari sejumlah fragmen kecil di dalam ketakterbatasan ruang seluruh eksistensi makrokosmos ini.

Sifat Ketergantungan Insan

Fakta ilmiah mengenai skala alam semesta ini memicu lahirnya kesadaran hukum mengenai betapa kecilnya ukuran fisik manusia serta alangkah lemahnya keadaan eksistensial mahluk berhadapan dengan Pencipta sekaligus Pengurus seluruh wujud ini.

Volume kebesaran Tuhan secara mutlak berada jauh di atas jangkauan kapasitas pengertian dan definisi rasio manusia.

Haekal menguraikan bahwa dalam kondisi menghadapkan seluruh kalbu dengan penuh keikhlasan kepada Kebesaran Tuhan Yang Maha Suci itulah, manusia memohon pertolongan (istianah) kepada-Nya.

Manusia mengharapkan intervensi ketuhanan untuk memberikan pasokan kekuatan atas segala bentuk kelemahan biologis dan psikologis diri, serta meminta bimbingan petunjuk dalam pencarian kebenaran objektif.

Ketika kesadaran akan kelemahan universal ini telah menetap di dalam jiwa, secara logis manusia akan mampu melihat persamaan mutlak di antara sesama umat manusia.

Di hadapan kedaulatan Tuhan, seluruh umat manusia berada pada derajat kelemahan yang setara. Tidak ada satu pun individu yang memiliki kapasitas untuk memperkuat posisinya atau membeli hak istimewa di hadapan Allah menggunakan akumulasi harta, modal privat, jabatan politik, ataupun kekayaan material.

Satu-satunya instrumen yang memiliki nilai validasi di sisi Tuhan hanyalah fondasi iman yang teguh, ketundukan mutlak secara konsisten kepada Allah, aktualisasi perbuatan baik (amal saleh) di ruang publik, serta kemampuan mengendalikan diri dari tindakan destruktif (takwa).

Hukum Sekuler Barat

Prinsip persamaan yang sesungguhnya dan bersifat sempurna di hadapan Tuhan ini memiliki perbedaan divergensi yang sangat radikal dengan konsep persamaan yang sering dikampanyekan oleh kebudayaan Barat modern belakangan ini, yaitu doktrin persamaan di hadapan hukum (equality before the law).

Sejarah sosiologi hukum memperlihatkan bahwa kebudayaan sekuler Barat memandang konsep persamaan hanya sebatas jargon formalistik yang dalam praktiknya justru mengalami pembusukan sistemik di tingkat aparatus penegak hukum.

Sistem hukum sekuler kapitalistik telah berjalan begitu jauh dari esensi keadilan, sehingga prinsip persamaan tersebut hampir tidak lagi diakui eksistensinya di lapangan empiris.

Bagi kelompok elit tertentu yang menguasai kapital dan struktur politik, aturan hukum formal sering kali tidak lagi berlaku. Hukum mengalami disfungsi dan tidak dihormati ketika berhadapan dengan kekuasaan materi.

Haekal menegaskan bahwa persamaan di hadapan Tuhan yang dirasakan secara riil oleh setiap Muslim di kala mendirikan salat—di mana seorang pejabat, buruh, konglomerat, dan fakir miskin berdiri sejajar dalam satu saf tanpa sekat sosiologis—sangat berbeda dengan persamaan semu dalam sistem kompetisi pasar kapitalis.

Model persaingan ekonomi Barat sekuler melegitimasi segala bentuk tipu daya, manipulasi regulasi, serta perilaku bermuka-muka demi memenangkan akumulasi kekayaan.

Dampak lanjutannya, individu yang memiliki kecerdasan oportunistik untuk mengelak dari jerat hukum serta pandai memainkan lobi kekuasaan akan selalu selamat dari sanksi peradilan. Hukum dalam tatanan sekuler menjadi tajam ke bawah dan tumpul ke atas, sebuah kondisi yang mustahil terjadi dalam ekosistem keimanan Islam yang sejati.

Evaluai Sosiologis

Konsep persamaan hakiki yang lahir dari rahim kekhusyukan salat ini diperkuat oleh analisis ilmiah para sosiolog dan filsuf Islam internasional.

Tokoh intelektual terkemuka asal Prancis, Prof. Dr. Ali Salman (Rene Guenon), dalam karyanya yang monumental, The Crisis of the Modern World (1927), memberikan kritik tajam terhadap konsep demokrasi sekuler Barat.

Guenon memberikan argumen bahwa egalitarianisme Barat adalah sebuah ilusi kuantitatif yang mereduksi manusia menjadi sekadar angka dalam pemilu atau unit produksi dalam pabrik. Sebaliknya, Islam melalui ibadah salat berjamaah menegakkan kualitas persamaan kualitatif yang metafisik.

Dalam saf salat, identitas egoistik manusia dihancurkan untuk memunculkan identitas persaudaraan universal yang berbasis pada kesadaran teosentris.

Kajian yang senada juga dipaparkan oleh pakar sosiologi Islam, Dr. Ali Shariati, dalam buku On the Sociology of Islam (1979). Shariati menyatakan bahwa ibadah salat dan haji di dalam Islam adalah instrumen revolusioner untuk melakukan emansipasi massa secara radikal.

Shariati menulis bahwa ketika seorang Muslim mengucapkan kalimat takbir, ia sedang melakukan deklarasi politik untuk menolak segala bentuk tiran (thaghut) dan bertekuk lutut hanya di hadapan Allah.

Pengalaman psikologis merasa diri kecil di hadapan Tuhan secara otomatis melahirkan keberanian sosiologis untuk menolak merasa kecil di hadapan sesama manusia yang mencoba melakukan penindasan ekonomi atau politik.

Kesetaraan di dalam Islam tidak diperoleh melalui konsesi politik kelas, melainkan dari pengakuan spiritual universal bahwa semua manusia adalah hamba (abd) yang sama di hadapan Sang Pencipta.

Di era digital, diskursus mengenai superioritas keadilan teosentris Islam ini gencar dipublikasikan oleh para cendekiawan melalui jaringan komunikasi global.

Dalam sebuah ulasan ilmiah yang disiarkan oleh platform Twitter/X dan kanal resmi YouTube Beyond the Headlines (2025), Dr. Shadee Elmasry menjelaskan fenomena kegagalan sistem peradilan pidana di negara-negara kapitalis maju.

Elmasry menyajikan data statistik mengenai tingginya diskriminasi hukum rasial dan ekonomi di Barat, di mana pemilik modal besar dapat menyewa pengacara elite untuk merekayasa pasal hukum agar terbebas dari hukuman.

Elmasry menekankan bahwa ketimpangan ini bersumber dari hilangnya rasa takut kepada Tuhan dalam filsafat hukum sekuler. Tanpa adanya internalisasi kesadaran salat yang menempatkan manusia sebagai mahluk kecil yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, hukum hanya akan diubah menjadi alat perlindungan bagi kaum borjuis untuk menindas kaum proletar.

Dengan demikian, naskah historiografi Haekal dan kompilasi kajian tokoh Islam dunia memberikan sebuah kesimpulan argumentatif yang rigid: krisis keadilan global tidak akan dapat disembuhkan melalui rekayasa teks undang-undang sekuler yang bersifat positivistik.

Solusi fundamental atas penyakit keserakahan dan penindasan manusia atas manusia adalah dengan mengembalikan umat manusia pada metodologi ibadah yang transformatif.

Salat yang didirikan dengan pemahaman makna, kehadiran hati, serta kesadaran kosmis akan posisi manusia di tengah ketakterbatasan alam semesta, terbukti secara ilmiah mampu bertindak sebagai penawar bagi patologi kapitalisme.

Ibadah yang ikhlas tidak hanya mengantarkan jiwa pada ketenteraman rohani, melainkan juga memancarkan keadilan distributif dan kesetaraan sosial yang hakiki di panggung peradaban dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 31 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:58
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan