Kritik Sistem Riba Global dan Formulasi Solusi Ekonomi Berbasis Etika Syariah
Miftah yusufpati
Rabu, 17 Juni 2026 - 05:17 WIB
Tujuan hakiki dari sistem ekonomi berbasis rohani adalah mewujudkan keadilan distributif yang inklusif. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Seorang buruh pabrik tekstil di pinggiran kota duduk termenung di depan beranda rumahnya yang sempit. Di tangannya, selembar kertas tagihan pinjaman daring menuntut pelunasan segera dengan akumulasi bunga yang telah melipatgandakan utang pokoknya.
Setiap bulan, sebagian besar upah yang ia hasilkan dari memeras keringat di depan mesin tenun habis hanya untuk membayar bunga pinjaman tersebut.
Fenomena ini bukan cerita tunggal, melainkan realitas harian yang menjerat jutaan manusia di belahan bumi modern.
Pola sirkulasi keuangan kapitalistik kontemporer menempatkan akumulasi modal di atas nilai kemanusiaan, menciptakan jurang ketimpangan yang kian menganga antara pemilik modal dan pekerja.
Eksploitasi sistemik semacam ini bergulir karena roda ekonomi dunia digerakkan oleh instrumen riba, yaitu keuntungan tetap dari pinjaman tanpa risiko kerugian bagi pemilik modal.
Dalam perspektif sejarah, kegagalan tata ekonomi sekuler bersumber dari pemisahan yang radikal antara aktivitas pasar dan tuntutan moral rohani.
Paradigma baru yang mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam kebijakan fiskal dan moneter menawarkan jalan keluar konkret untuk menghapus penderitaan material manusia.
Setiap bulan, sebagian besar upah yang ia hasilkan dari memeras keringat di depan mesin tenun habis hanya untuk membayar bunga pinjaman tersebut.
Fenomena ini bukan cerita tunggal, melainkan realitas harian yang menjerat jutaan manusia di belahan bumi modern.
Pola sirkulasi keuangan kapitalistik kontemporer menempatkan akumulasi modal di atas nilai kemanusiaan, menciptakan jurang ketimpangan yang kian menganga antara pemilik modal dan pekerja.
Eksploitasi sistemik semacam ini bergulir karena roda ekonomi dunia digerakkan oleh instrumen riba, yaitu keuntungan tetap dari pinjaman tanpa risiko kerugian bagi pemilik modal.
Dalam perspektif sejarah, kegagalan tata ekonomi sekuler bersumber dari pemisahan yang radikal antara aktivitas pasar dan tuntutan moral rohani.
Paradigma baru yang mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam kebijakan fiskal dan moneter menawarkan jalan keluar konkret untuk menghapus penderitaan material manusia.