Krisis Timur Tengah dan Masa Depan Ekonomi Negara-Negara OKI: Dari Ketahanan Jangka Pendek Menuju Transformasi Strategis
Lusi mahgriefie
Rabu, 17 Juni 2026 - 12:03 WIB
Krisis Timur Tengah dan Masa Depan Ekonomi Negara-Negara OKI: Dari Ketahanan Jangka Pendek Menuju Transformasi Strategis
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga menimbulkan guncangan ekonomi global, terutama bagi negara-negara anggota Organisation of Islamic Cooperation (OIC) atau Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Dalam Seminar Islamic Economic Outlook 2026: Scenario and Strategic Option for Regional Crisis, para ekonom dan analis membahas berbagai kemungkinan skenario serta strategi yang dapat ditempuh pemerintah dan dunia usaha untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian.
Seminar yang diselenggarakan Bappenas RI dengan menggandeng DinarStandard tersebut menyoroti bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya bagaimana merespons krisis dalam jangka pendek, tetapi bagaimana negara-negara OKI membangun ketahanan ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.
Krisis Energi Jadi Pemicu Efek Domino
Dalam pemaparan seminar disebutkan bahwa penutupan Selat Hormuz setelah eskalasi konflik regional memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga energi global.
(Rafi-Uddin Shikoh dari DinarStandard)
"Energi merupakan penggerak utama ekonomi. Dari sektor inilah muncul efek berantai berupa inflasi, gangguan rantai pasok, tekanan fiskal, hingga ancaman ketahanan pangan," ungkap Rafi-Uddin Shikoh, CEO dan Managing Director DinarStandard dalam presentasinya melansir dari Live Streaming Youtube Bappenas RI, Rabu (17/6/2026).
Dalam Seminar Islamic Economic Outlook 2026: Scenario and Strategic Option for Regional Crisis, para ekonom dan analis membahas berbagai kemungkinan skenario serta strategi yang dapat ditempuh pemerintah dan dunia usaha untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian.
Seminar yang diselenggarakan Bappenas RI dengan menggandeng DinarStandard tersebut menyoroti bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya bagaimana merespons krisis dalam jangka pendek, tetapi bagaimana negara-negara OKI membangun ketahanan ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.
Krisis Energi Jadi Pemicu Efek Domino
Dalam pemaparan seminar disebutkan bahwa penutupan Selat Hormuz setelah eskalasi konflik regional memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga energi global.
(Rafi-Uddin Shikoh dari DinarStandard)
"Energi merupakan penggerak utama ekonomi. Dari sektor inilah muncul efek berantai berupa inflasi, gangguan rantai pasok, tekanan fiskal, hingga ancaman ketahanan pangan," ungkap Rafi-Uddin Shikoh, CEO dan Managing Director DinarStandard dalam presentasinya melansir dari Live Streaming Youtube Bappenas RI, Rabu (17/6/2026).