Amin Abdullah Kenang Masa Dicap Liberal di Muhammadiyah: 'Benci Tapi Rindu'
Nabil
Jum'at, 19 Juni 2026 - 10:51 WIB
Amin Abdullah Kenang Masa Dicap Liberal di Muhammadiyah: 'Benci Tapi Rindu'
LANGIT7.ID-Jakarta; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan juga sahabat dekat Buya Syafii Ma'arif, Amin Abdullah, mengenang salah satu fase yang paling banyak diperbincangkan dalam perjalanan intelektualnya di Muhammadiyah.
Cerita itu disampaikan Amin Abdullah dalam acara "Malam Budaya: Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa" dan peluncuran buku "Buya Syafii di Mata Orang Biasa" yang digelar Ma'arif Institute di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Amin Abdullah menceritakan pengalamannya saat dipercaya memimpin Majelis Tarjih Muhammadiyah pada periode 1995-2000. Penunjukan itu, menurutnya, terbilang tidak biasa karena dirinya berasal dari latar belakang ilmu usuluddin, sementara posisi tersebut umumnya diisi kalangan syariah.
Ia mengaku berupaya mendorong pengembangan pemikiran Islam ketika memimpin Majelis Tarjih. Namun, gagasan-gagasan yang berkembang pada masa itu juga memunculkan perdebatan di lingkungan Muhammadiyah.
Setelah tidak lagi berada dalam jajaran pimpinan Muhammadiyah hasil Muktamar 2000, Amin Abdullah mengaku sempat menjadi sasaran tudingan liberalisasi pemikiran Islam.
"Kenalah aku dentuman liberalisasi," ujar dia.
Meski menghadapi kritik dan perbedaan pandangan, Amin Abdullah mengatakan hubungannya dengan Muhammadiyah tetap terjalin baik. Ia bahkan masih kerap diundang dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan persyarikatan.
Cerita itu disampaikan Amin Abdullah dalam acara "Malam Budaya: Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa" dan peluncuran buku "Buya Syafii di Mata Orang Biasa" yang digelar Ma'arif Institute di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Amin Abdullah menceritakan pengalamannya saat dipercaya memimpin Majelis Tarjih Muhammadiyah pada periode 1995-2000. Penunjukan itu, menurutnya, terbilang tidak biasa karena dirinya berasal dari latar belakang ilmu usuluddin, sementara posisi tersebut umumnya diisi kalangan syariah.
Ia mengaku berupaya mendorong pengembangan pemikiran Islam ketika memimpin Majelis Tarjih. Namun, gagasan-gagasan yang berkembang pada masa itu juga memunculkan perdebatan di lingkungan Muhammadiyah.
Setelah tidak lagi berada dalam jajaran pimpinan Muhammadiyah hasil Muktamar 2000, Amin Abdullah mengaku sempat menjadi sasaran tudingan liberalisasi pemikiran Islam.
"Kenalah aku dentuman liberalisasi," ujar dia.
Meski menghadapi kritik dan perbedaan pandangan, Amin Abdullah mengatakan hubungannya dengan Muhammadiyah tetap terjalin baik. Ia bahkan masih kerap diundang dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan persyarikatan.