home edukasi & pesantren

Tekan Kecelakaan, Profesor ITS Kembangkan Inovasi untuk Manajemen Risiko Maritim

Jum'at, 26 Juni 2026 - 14:29 WIB
Prof Ir Silvianita ST MSc PhD ketika memaparkan orasi ilmiahnya pada upacara Pengukuhan Profesor ITS. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Risiko kecelakaan dan kegagalan proyek masih menjadi tantangan besar industri maritim nasional. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-241 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Silvianita ST MSc PhD melakukan penelitian yang mengembangkan inovasi manajemen risiko untuk meningkatkan keselamatan dan keandalan infrastruktur maritim.

Dengan penelitian untuk orasi ilmiahnya itu pun, Silvianita telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar perempuan pertama dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS. Hal tersebut juga menunjukkan semakin besarnya kontribusi perempuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maritim.

Dalam orasi ilmiahnya tersebut, Silvianita memperkenalkan sistem terintegrasi bernama Methodology for Investigation of Critical Hazards (MIVTA) dan Methodology for Investigation of Risk-Based Maintenance (MIRBA) yang dikembangkannya untuk pengelolaan risiko di sektor maritim. “MIVTA digunakan untuk menemukan potensi bahaya sejak dini, sedangkan MIRBA membantu menentukan langkah mitigasi paling tepat agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan,” jelasnya.

MIVTA bekerja dengan mengidentifikasi berbagai potensi bahaya dalam suatu operasi, mencari penyebab utamanya, serta menilai kemungkinan dan tingkat dampak yang dapat ditimbulkan. Proses tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas risiko yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Untuk memaksimalkan fungsinya, perempuan berhijab ini mengintegrasikan metode Fuzzy Logic di dalam sistemnya.

Perempuan dengan bidang keahlian manajemen risiko bangunan laut ini melanjutkan, Fuzzy Logic memungkinkan berbagai kondisi yang sulit diukur secara pasti diproses menjadi nilai yang lebih objektif. Alhasil, setiap potensi bahaya dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat frekuensi dan keparahannya. “Dengan ini, kita bisa menangkap ketidakpastian di lapangan yang selama ini sulit dikuantifikasi,” terang profesor dari Departemen Teknik Kelautan ITS ini, dikutip Jumat (26/6/2026).

Hasil pemeringkatan risiko dari MIVTA kemudian diproses lebih lanjut menggunakan MIRBA. Dengan menggabungkan beberapa metode analisis, Silvianita melanjutkan, MIRBA membantu menentukan tindakan pencegahan dan strategi perawatan yang paling sesuai berdasarkan tingkat risiko yang telah diidentifikasi.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya