Ijtihad Hijab Umar bin Khattab: Melindungi Para Perempuan dari Gangguan Publik
Miftah yusufpati
Selasa, 30 Juni 2026 - 05:00 WIB
Jilbab dalam perspektif politik Madinah bukan sekadar simbol kesalehan individu yang pasif, melainkan sebuah maklumat hukum yang tegas dari negara untuk memproteksi warga negaranya. IST
LANGIT7.ID-Kegelapan malam baru saja menyelimuti Madinah ketika beberapa perempuan berjalan beriringan menuju area terbuka di pinggiran kota. Di masa itu, rumah-rumah penduduk belum dilengkapi fasilitas sanitasi privat, sehingga tempat buang air harus diakses di area khusus luar ruangan.
Di tengah rute yang sepi tersebut, langkah kaki mereka kerap dipantau oleh mata-mata usil kaum munafik yang gemar mencari kesempatan.
Dari kejauhan, Umar bin Khattab berdiri mengamati situasi dengan rasa cemas yang beralasan.
Ketika sosok Saudah binti Zam'ah yang berpostur tinggi melintas, Umar segera mengenalinya di dalam kegelapan. Tanpa ragu, Umar berseru menegur untuk memastikan bahwa identitas istri Nabi Muhammad tersebut sangat mudah diidentifikasi.
Kejadian malam itu bukan sekadar interaksi biasa, melainkan pemantik dari sebuah ijtihad besar Umar yang mendambakan adanya regulasi proteksi berpakaian bagi kaum perempuan di ruang publik.
Kegelisahan Umar bersumber pada fakta sosiologis Madinah yang heterogen. Sebagai kota yang tengah berkembang menjadi pusat daulah Islam, Madinah dihuni oleh beragam karakter manusia, mulai dari sahabat yang saleh hingga kaum munafik yang memiliki penyakit moral di dalam hatinya.
Umar merasa integritas dan keselamatan domestik Nabi Muhammad harus dipagari dengan ketat dari pandangan buruk publik. Ia segera menghadap Nabi Muhammad untuk menyampaikan analisis keamanannya.
Di tengah rute yang sepi tersebut, langkah kaki mereka kerap dipantau oleh mata-mata usil kaum munafik yang gemar mencari kesempatan.
Dari kejauhan, Umar bin Khattab berdiri mengamati situasi dengan rasa cemas yang beralasan.
Ketika sosok Saudah binti Zam'ah yang berpostur tinggi melintas, Umar segera mengenalinya di dalam kegelapan. Tanpa ragu, Umar berseru menegur untuk memastikan bahwa identitas istri Nabi Muhammad tersebut sangat mudah diidentifikasi.
Kejadian malam itu bukan sekadar interaksi biasa, melainkan pemantik dari sebuah ijtihad besar Umar yang mendambakan adanya regulasi proteksi berpakaian bagi kaum perempuan di ruang publik.
Kegelisahan Umar bersumber pada fakta sosiologis Madinah yang heterogen. Sebagai kota yang tengah berkembang menjadi pusat daulah Islam, Madinah dihuni oleh beragam karakter manusia, mulai dari sahabat yang saleh hingga kaum munafik yang memiliki penyakit moral di dalam hatinya.
Umar merasa integritas dan keselamatan domestik Nabi Muhammad harus dipagari dengan ketat dari pandangan buruk publik. Ia segera menghadap Nabi Muhammad untuk menyampaikan analisis keamanannya.