Sertifikasi Sawit Berkelanjutan ISPO Masih Temui Hambatan
Muhammad rifai akif
Kamis, 21 Oktober 2021 - 10:35 WIB
Zoominari Kebijakan Publik Narasi Institute. Foto : Istimewa
"Data Kementerian RI mencatat bahwa kontribusi minyak sawit terhadap lapangan kerja nasional - menyerap lebih dari 16,2 juta pekerja - dan total ekspor, dengan total nilai ekspor tertinggi sekitar $ 20,38 miliar dolar per Agustus 2021 dengan total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 16,3 juta ha tersebar di 26 provinsi dan 217 kabupaten." jelas Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Perekonomian Musdalifah Mahmud dalam Zoominari Kebijakan Publik Narasi Institute Selasa (19/10).
Musdalilfah mengingatkan bahwa kondisi geografis perkebunan kelapa sawit menyebabkan karakter petani kelapa sawit berbeda, yang menjadi tantangan utama penerapan ISPO.
"Terkait petani sawit, banyak isu-isu mendesak mengenai perkebunan skema plasma termasuk produktivitas yang rendah karena rendahnya kualitas pupuk, kurangnya pengetahuan tentang praktik pertanian yang baik (GAP), organisasi yang buruk, dan kurangnya akses ke bantuan modal dan keuangan," jelas Musdalifah Mahmud.
Baca juga : Optimalkan Halaman Masjid Jadi Lahan Pertanian Modern, Menteri BUMN Apresiasi Terobosan PLN
Musdalifah Mahmud merekomendasikan petani segera mengadoptasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk mengatasi persoalan produktifitas karena dengan demikian peremajaan perkebunan skema plasma, penerapan praktik pertanian yang baik (GAP), dan perbaikan proses administrasi dan dokumentasi dapat dilakukan dengan mudah.
Musdalifah menggarisbawahi bahwa program “Strengthening Palm Oil Sustainability in Indonesia” (SPOS) merupakan penggerak utama percepatan penerapan ISPO.