home masjid

Meresapi Hakikat Al-Ghina, Kekayaan Jiwa dan Kunci Keberuntungan Sejati

Rabu, 08 Juli 2026 - 18:21 WIB
Meresapi Hakikat Al-Ghina, Kekayaan Jiwa dan Kunci Keberuntungan Sejati. Foto: Pexels.
Dalam fenomena masyarakat hari ini, sering kali ukuran kesuksesan berasal dari aspek materi dan kemewahan lahiriah, padahal Islam menawarkan sebuah konsep fundamental mengenai orientasi kebahagiaan yang sejati. Konsep tersebut adalah Al-Ghina (kekayaan yang hakiki).

Secara esensial, al-ghina bukanlah melimpahnya aset atau tumpukan harta benda, melainkan kekayaan jiwa dan rasa rela (kesadaran merasa cukup) terhadap apa yang ada pada diri manusia serta apa yang ada di tangan mereka. Ketika seseorang berhasil meraih kemandirian hati ini, ia tidak akan mudah silau, iri, atau bergantung pada apa yang dimiliki oleh orang lain.

Baca juga: Syafaat di Hari Akhir, Ini 7 Cara Perkaya Jiwa dengan Al-Quran

Prinsip dasar mengenai kekayaan jiwa ini berkaitan erat dengan potret manusia yang paling beruntung di dunia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Amr RA, Rasulullah ﷺ mengurai tiga pilar keberuntungan sejati tersebut:

قَدْ أَفْلَحَ مَن أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بما آتاهُ

Artinya: "Sungguh beruntung orang yang berserah diri (masuk Islam), dianugerahi rezeki yang cukup (kafaf), dan Allah jadikannya qana'ah (merasa puas) dengan apa yang Allah berikan kepadanya." (HR Muslim).

Melalui hadis yang menjadi salah satu riwayat khas (min afradi) Imam Muslim atas Imam Al-Bukhari ini, kita dapat membedah korelasi kuat antara ketundukan iman, kecukupan materi, dan kekayaan jiwa:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya