Ciri Orang Bertakwa: Mengapa Iman Tak Boleh Setengah-Setengah?
Ahmad zuhdi
Jum'at, 24 Juli 2026 - 06:19 WIB
Ciri Orang Bertakwa: Mengapa Iman Tak Boleh Setengah-Setengah?
Menjadi pribadi yang bertakwa (muttaqin) membutuhkan keimanan yang utuh dan tidak parsial. Setelah menguraikan keimanan kepada hal gaib, penegakan shalat, dan infak pada ayat-ayat sebelumnya, Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 4 melengkapi kriteria ketakwaan dengan iman kepada seluruh kitab Allah serta keyakinan mutlak terhadap hari akhir. Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin wajib mengimani Al-Qur'an sekaligus kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.
Menjelaskan makna ayat tersebut, Sahabat Nabi, Ibnu 'Abbās, sebagaimana diriwayatkan Al-Shawkānī dalam Fatḥ al-Qadīr menyatakan bahwa yang dimaksud adalah pembenaran yang tulus terhadap risalah Nabi Muhammad SAW serta risalah para rasul terdahulu. Umat Islam diajarkan untuk tidak membeda-bedakan di antara para rasul dan tidak mengingkari apa yang dibawakan oleh mereka dari Allah SWT.
Penggalan awal ayat ini, wa allazhīna yu'minūna bimā unzila ilayka, menekankan kewajiban beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Para mufassir seperti Al-Shaukānī dan Al-Shanqīṭī menjelaskan bahwa kata iman di sini bermakna yushaddiqūna atau membenarkan secara tulus. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan bukan sebatas pengakuan lisan belakangan, melainkan pembenaran hati yang melahirkan kepatuhan dan tindakan nyata atas kebenaran Al-Qur'an.
Baca Juga:Tafsir Al-Baqarah Ayat 3: Fondasi Iman, Kesempurnaan Shalat, dan Kepedulian Sosial
Selanjutnya, penggalan wa mā unzila min qablika mewajibkan setiap mukmin untuk mengimani seluruh kitab yang pernah diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Ibnu 'Abbās menekankan bahwa sikap tidak membeda-bedakan para rasul maupun risalahnya merupakan bantahan tegas bagi kelompok yang hanya mengimani kitabnya sendiri namun menolak Al-Qur'an, maupun bagi pihak yang mengingkari seluruh kitab samawi. Para ulama pun sepakat bahwa kewajiban ini berlaku secara umum bagi seluruh orang yang beriman.
Adapun penggalan wa bi al-ākhirati hum yūqinūna menggunakan struktur tata bahasa khusus (taqdīm) yang mendahulukan penyebutan hari akhir. Penekanan struktur ini mengajarkan bahwa urusan akhirat harus menjadi fokus dan prioritas utama dalam kehidupan seorang mukmin. Penggunaan kata yūqinūna yang berakar dari kata al-yaqīn menandakan bahwa keimanan pada hari akhir harus berada pada tingkat keyakinan yang sangat kokoh tanpa keraguan sedikit pun. Secara rinci, keyakinan ini mencakup kepercayaan penuh pada hari kebangkitan, kiamat, surga, neraka, proses perhitungan amal (hisab), serta timbangan (mīzān).
Pesan dari Surat Al-Baqarah ayat 4 memberikan ajaran penting bahwa ketakwaan tidak dapat berdiri tanpa keimanan yang menyeluruh. Keimanan ini harus mencakup dimensi masa lalu melalui kitab-kitab terdahulu, masa kini melalui Al-Qur'an, serta masa depan melalui keyakinan pada hari akhir. Iman kepada kitab-kitab Allah menyambungkan seorang mukmin dengan rantai kenabian yang panjang, sementara keyakinan mutlak pada hari akhir menjadi kompas yang mengarahkan seluruh tujuan hidup menuju pertanggungjawaban abadi di hadapan Allah SWT.
Menjelaskan makna ayat tersebut, Sahabat Nabi, Ibnu 'Abbās, sebagaimana diriwayatkan Al-Shawkānī dalam Fatḥ al-Qadīr menyatakan bahwa yang dimaksud adalah pembenaran yang tulus terhadap risalah Nabi Muhammad SAW serta risalah para rasul terdahulu. Umat Islam diajarkan untuk tidak membeda-bedakan di antara para rasul dan tidak mengingkari apa yang dibawakan oleh mereka dari Allah SWT.
Penggalan awal ayat ini, wa allazhīna yu'minūna bimā unzila ilayka, menekankan kewajiban beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Para mufassir seperti Al-Shaukānī dan Al-Shanqīṭī menjelaskan bahwa kata iman di sini bermakna yushaddiqūna atau membenarkan secara tulus. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan bukan sebatas pengakuan lisan belakangan, melainkan pembenaran hati yang melahirkan kepatuhan dan tindakan nyata atas kebenaran Al-Qur'an.
Baca Juga:Tafsir Al-Baqarah Ayat 3: Fondasi Iman, Kesempurnaan Shalat, dan Kepedulian Sosial
Selanjutnya, penggalan wa mā unzila min qablika mewajibkan setiap mukmin untuk mengimani seluruh kitab yang pernah diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Ibnu 'Abbās menekankan bahwa sikap tidak membeda-bedakan para rasul maupun risalahnya merupakan bantahan tegas bagi kelompok yang hanya mengimani kitabnya sendiri namun menolak Al-Qur'an, maupun bagi pihak yang mengingkari seluruh kitab samawi. Para ulama pun sepakat bahwa kewajiban ini berlaku secara umum bagi seluruh orang yang beriman.
Adapun penggalan wa bi al-ākhirati hum yūqinūna menggunakan struktur tata bahasa khusus (taqdīm) yang mendahulukan penyebutan hari akhir. Penekanan struktur ini mengajarkan bahwa urusan akhirat harus menjadi fokus dan prioritas utama dalam kehidupan seorang mukmin. Penggunaan kata yūqinūna yang berakar dari kata al-yaqīn menandakan bahwa keimanan pada hari akhir harus berada pada tingkat keyakinan yang sangat kokoh tanpa keraguan sedikit pun. Secara rinci, keyakinan ini mencakup kepercayaan penuh pada hari kebangkitan, kiamat, surga, neraka, proses perhitungan amal (hisab), serta timbangan (mīzān).
Pesan dari Surat Al-Baqarah ayat 4 memberikan ajaran penting bahwa ketakwaan tidak dapat berdiri tanpa keimanan yang menyeluruh. Keimanan ini harus mencakup dimensi masa lalu melalui kitab-kitab terdahulu, masa kini melalui Al-Qur'an, serta masa depan melalui keyakinan pada hari akhir. Iman kepada kitab-kitab Allah menyambungkan seorang mukmin dengan rantai kenabian yang panjang, sementara keyakinan mutlak pada hari akhir menjadi kompas yang mengarahkan seluruh tujuan hidup menuju pertanggungjawaban abadi di hadapan Allah SWT.