LANGIT7.ID-Jakarta; - Surat Al-Baqarah ayat ketiga hadir sebagai penyempurna dan rincian langsung dari kriteria orang-orang yang bertakwa atau al-muttaqin. Setelah pada ayat sebelumnya Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur'an merupakan petunjuk bagi mereka yang menjaga ketakwaan, pada ayat ini Allah memaparkan tiga pilar utama yang menjadi penanda keimanan seseorang: beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, serta menafkahkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan.
Imam Al-Baghawi merincikan dalam kitab Ma’alim at-Tanzil bahwa Surat Al-Baqarah tergolong Madaniyyah dan terdiri dari 280-an lebih ayat. Ayat ketiga ini menjadi fondasi akidah sekaligus amalan harian seorang mukmin karena memadukan tiga dimensi penting, yaitu keyakinan batin, ibadah fisik, dan kepedulian harta. Syekh As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa rangkaian ayat di awal Surat Al-Baqarah ini secara gamblang menggambarkan profil pribadi-pribadi yang meraih keberuntungan hakiki.
Penggalan pertama dari ayat ini dibuka dengan kalimat yuminuna bil-ghaib yang menjelaskan sifat paling mendasar dari orang-orang bertakwa, yaitu keimanan pada hal-hal ghaib. Imam at-Thabari memberikan ulasan mendalam dalam Jami’ al-Bayan bahwa yang dimaksud dengan ghaib adalah seluruh realitas akhirat dan alam metafisik yang berada di luar jangkauan panca indera manusia di dunia.
Hal ini mencakup keyakinan bulat terhadap keberadaan surga, neraka, balasan pahala, siksaan kubur, hingga hari kebangkitan. Sementara itu, Ibnu Katsir mengutip penafsiran dari sahabat Nabi, Ibnu Abbas, yang menjelaskan bahwa kata yuminun memiliki makna yushaddiqun, yakni membenarkan dengan penuh keyakinan di dalam hati.
Maknanya, iman di sini bukan sekadar pengetahuan intelektual atau pengakuan lisan belaka, melainkan pembenaran yang mantap. Keyakinan pada alam ghaib inilah yang menjadi pembeda utama antara seorang mukmin sejati dengan mereka yang menutup diri dari kebenaran.
Baca Juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2: Petunjuk bagi Orang BertakwaSelanjutnya, alur ayat berlanjut pada perintah yuqimuna as-shalah. Pemilihan kata dalam Al-Qur'an sangatlah presisi; Allah menggunakan kata yuqimun yang berarti mereka mendirikan, dan bukan yushallun yang sekadar bermakna mereka mengerjakan shalat.
Imam at-Thabari merujuk penjelasan Ibnu Abbas untuk mengurai makna iqamah atau pendirian shalat tersebut. Mendirikan shalat berarti menunaikan ibadah tersebut sesuai dengan batasan dan kewajiban yang telah ditetapkan.
Ibnu Abbas memperjelas bahwa mendirikan shalat mencakup penyempurnaan ruku, sujud, tilawah atau bacaan Al-Qur'an, pemeliharaan rasa khusyuk, serta kesadaran penuh dalam menghadapkan diri kepada Allah SWT saat beribadah. Artinya, shalat yang didirikan bukanlah ritual fisik yang dilakukan secara terburu-buru atau sekadar gugur kewajiban, melainkan sebuah ibadah yang dihidupkan dengan kesempurnaan rukun lahiriah dan keheningan batin.
Pilar ketiga dari ayat ini mengarah pada dimensi kemanusiaan dan kepedulian sosial melalui kalimat wa mimma razaqnahum yunfiqun, yaitu menafkahkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan. Poin yang sangat menarik terlihat dari pemilihan kata razaqnahum yang menggunakan bentuk pengagungan untuk mengingatkan bahwa segala bentuk harta dan rezeki yang berada di tangan manusia pada hakikatnya merupakan pemberian serta titipan murni dari Allah SWT.
Syekh As-Sa'di dan Ibnu Kathir menjelaskan bahwa ruang lingkup infak dalam ayat ini bersifat menyeluruh. Amalan ini mencakup hak-hak Allah seperti kewajiban zakat dan sedekah sunnah, serta pemenuhan hak sesama manusia seperti pemberian nafkah keluarga dan bantuan sosial bagi mereka yang membutuhkan. Menafkahkan sebagian rezeki adalah wujud nyata dari rasa syukur sekaligus pengakuan batin bahwa harta yang kita miliki sejatinya harus dikembalikan untuk meraih keridaan-Nya.
Dari pemaparan tafsir per penggalan ayat tersebut, kita dapat memetik pelajaran penting mengenai bagaimana Al-Qur'an membentuk karakter seorang Muslim yang seimbang. Pertama, keimanan kepada yang ghaib merupakan fondasi utama tempat berdirinya seluruh bangunan Islam.
Baca Juga: MUI Dukung Wamenag Sisipkan Pendidikan Bahaya LGBT Sejak Kelas 4 SDTanpa adanya keyakinan pada kehidupan akhirat dan janji-janji Allah, seluruh ibadah akan kehilangan ruhnya. Kedua, keimanan tersebut harus dibuktikan melalui tindakan nyata, yang dimulai dari penegakan shalat secara sempurna baik secara fisik maupun ruhani. Shalat menjadi sarana komunikasi vertikal yang menjaga hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta.
Ketiga, kesempurnaan ibadah vertikal harus diimbangi dengan kepekaan horizontal melalui ibadah maliyah atau infak. Harta yang kita infakkan menjadi bukti kejujuran iman bahwa kita tidak terikat pada kesenangan duniawi belakangan. Ketiga sifat ini; iman ghaib, shalat, dan infak saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa gelar al-muflihun atau orang-orang yang beruntung hanya diberikan kepada mereka yang mampu menghimpun ketiga sifat ini secara bersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Iman tanpa amal adalah dusta, sedangkan amal tanpa dasar keimanan adalah sia-sia.
(zhd)