Tafsir Al-Baqarah Ayat 7: Bahaya Terkuncinya Hati dari Hidayah
Ahmad zuhdi
Senin, 27 Juli 2026 - 06:00 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 7: Bahaya Terkuncinya Hati dari Hidayah
Setelah memaparkan kriteria orang-orang yang bertakwa pada bagian awal Surat Al-Baqarah, Al-Qur'an melanjutkan pembahasannya dengan mengulas potret orang-orang kafir. Pada ayat keenam disebutkan bahwa diberi peringatan atau tidak, orang-orang kafir tetap tidak akan beriman.
Selanjutnya, ayat ketujuh menjelaskan sebab mendasar di balik ketegaran mereka menolak kebenaran tersebut, yakni terkuncinya hati, pendengaran, dan tertutupnya penglihatan mereka dari petunjuk Allah SWT.
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌۭ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ
"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS Al-Baqarah: 7).
Imam al-Baghawi dalam kitab Ma’ālim at-Tanzīl menjelaskan bahwa kendati Surat Al-Baqarah tergolong sebagai surah Madaniyyah, pesan moral yang diusung dalam ayat ketujuh ini bersifat universal. Ayat ini menjadi pemisah tegas antara golongan beriman yang berada di atas petunjuk dengan golongan yang menutup diri dari cahaya kebenaran, sekaligus memberikan peringatan keras mengenai bahaya laten dari kekufuran yang dilakukan secara terus-menerus.
Penggalan awal ayat ini diawali dengan kalimat khatamallāhu ‘alā qulūbihim. Secara etimologi, kata khatama bermakna thaba'a, yaitu mengecap, mencap, atau mengunci mati. Imam at-Thabari dalam Jāmi' al-Bayān dan Ibnu Katsir yang mengutip penjelasan al-Suddi mengonfirmasi bahwa makna ayat tersebut adalah Allah telah mengecap atau mengunci hati orang-orang kafir akibat pilihan kekufuran dan kemunafikan mereka sendiri.
Baca Juga:Tafsir Hadits: Enam Hak dan Kewajiban Sesama Muslim
Selanjutnya, ayat ketujuh menjelaskan sebab mendasar di balik ketegaran mereka menolak kebenaran tersebut, yakni terkuncinya hati, pendengaran, dan tertutupnya penglihatan mereka dari petunjuk Allah SWT.
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌۭ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ
"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS Al-Baqarah: 7).
Imam al-Baghawi dalam kitab Ma’ālim at-Tanzīl menjelaskan bahwa kendati Surat Al-Baqarah tergolong sebagai surah Madaniyyah, pesan moral yang diusung dalam ayat ketujuh ini bersifat universal. Ayat ini menjadi pemisah tegas antara golongan beriman yang berada di atas petunjuk dengan golongan yang menutup diri dari cahaya kebenaran, sekaligus memberikan peringatan keras mengenai bahaya laten dari kekufuran yang dilakukan secara terus-menerus.
Penggalan awal ayat ini diawali dengan kalimat khatamallāhu ‘alā qulūbihim. Secara etimologi, kata khatama bermakna thaba'a, yaitu mengecap, mencap, atau mengunci mati. Imam at-Thabari dalam Jāmi' al-Bayān dan Ibnu Katsir yang mengutip penjelasan al-Suddi mengonfirmasi bahwa makna ayat tersebut adalah Allah telah mengecap atau mengunci hati orang-orang kafir akibat pilihan kekufuran dan kemunafikan mereka sendiri.
Baca Juga:Tafsir Hadits: Enam Hak dan Kewajiban Sesama Muslim