home global news

Membaca Fenomena Munu: Realitas Varian Beragama Muhammadiyah dan NU

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:42 WIB
(Dok: Istimewa)
Oleh: Drs. H. Danusiri, M.Ag.

LANGIT7.ID-Agama merupakan panduan ketuhanan mutlak bagi umat manusia untuk mencapai kebahagiaan sejati. Ulama Mahmud Syalthut membedakan secara tegas antara wujud agama dan praktik beragama. Agama Islam bersumber dari Al-Qur’an dan sunah yang bersifat mutlak kebenarannya. Namun, praktik beragama sangat dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan, kondisi sosial, hingga adat istiadat masyarakat. Realitas sosiologis inilah yang melahirkan ragam varian beragama di Indonesia, termasuk interaksi kultural antara Muhammadiyah dan NU.

Faktanya, konfigurasi keberagamaan umat Islam terbagi menjadi banyak kelompok dengan pandangan masing-masing. Meskipun berbeda kelompok, umat Islam tetap sepakat meyakini Allah, Al-Qur’an, Rasulullah, dan datangnya hari akhir.

Di luar empat prinsip dasar tersebut, praktik keagamaan kerap kali sarat akan perbedaan. Menariknya, perbedaan ini justru memunculkan sebuah kenyataan varian beragama yang hidup di akar rumput. Realitas sosiologis ini belakangan sering kita kenal dengan sebutan fenomena Munu.

Munu: Varian Nyata di Tengah Masyarakat

Tokoh pemikir Munir Mulkhan pernah memetakan empat varian orang Muhammadiyah dalam kehidupan sosial. Varian tersebut meliputi kelompok al-Ikhlas, Kiyai Dahlan, Munu, dan Marmud. Istilah Munu sendiri merupakan singkatan dari Muhammadiyah-NU.

Kelompok ini mendeskripsikan warga Muhammadiyah yang secara sadar atau tidak membawa identitas amalan NU dalam kesehariannya. Fenomena ini menjadi bukti nyata cairnya praktik keagamaan Muhammadiyah dan NU di tengah masyarakat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya