Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 12 September 2026
home masjid detail berita

Islam Agama Fitrah: Penjelasan Lengkap Tafsir Surat Ar-Rum Ayat 30

ahmad zuhdi Sabtu, 12 September 2026 - 14:08 WIB
Islam Agama Fitrah: Penjelasan Lengkap Tafsir Surat Ar-Rum Ayat 30
LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat Ar-Rum ayat 30 berdiri sebagai salah satu landasan teologis paling fundamental dalam Al-Qur'an mengenai hakikat fiṭrah, yaitu keadaan asal penciptaan manusia yang suci dan cenderung kepada tauhid.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS Ar-Rum: 30).

Kehadiran ayat ini di pertengahan surah Ar-Rum—setelah pemaparan tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ di alam raya dan sebelum pembahasan kerusakan akibat perbuatan manusia—menegaskan bahwa perintah menegakkan agama secara lurus merupakan konsekuensi logis dari pengakuan atas rubūbiyyah Allah ﷻ. Ayat ini mempertegas bahwa Islam bukanlah agama asing yang dipaksakan dari luar, melainkan jalan hidup yang sepenuhnya selaras dengan tabiat murni manusia.

Al-Ṭabarī menegaskan bahwa makna fiṭrah pada dasarnya merujuk pada Islam itu sendiri, sebagaimana pendapat Ibn Zaid yang mengaitkannya dengan perjanjian primordial (mītsāq) ketika seluruh anak cucu Adam bersaksi di hadapan Allah ﷻ.

Seruan utama ayat ini diawali dengan perintah fa-aqim wajhaka lid-dīni ḥanīfā, yang mengarahkan manusia untuk mensejajarkan seluruh tujuan hidupnya kepada agama Allah ﷻ. Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa meluruskan wajah berarti mengarahkan ketaatan secara penuh kepada jalan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Menanggapi penggalan ini, Saʿīd bin Jubayr sebagaimana dikutip oleh Al-Baghawī menekankan bahwa menegakkan wajah berunsur utama pengikhlasan agama semata-mata untuk Allah ﷻ, mengingat wajah merupakan simbol dari apa yang dituju oleh seseorang dalam setiap amal perbuatannya. Cakupan perintah ini diperluas oleh Al-Saʿdī, yang menerangkan bahwa mengarahkan wajah melibatkan penghayatan syariat lahir seperti salat, zakat, puasa, dan haji, sekaligus penyatuan syariat batin yang meliputi rasa cinta, takut, harap, dan kepasrahan hati.

Sementara itu, makna ḥanīf dirinci oleh Al-Shawkānī melalui berbagai riwayat salaf—seperti Mujāhid yang mengartikannya sebagai sikap mengikut, Ibn ʿAbbās yang menghubungkannya dengan pelaksanaan haji, serta Muḥammad bin Kaʿb dan Khuṣayf yang memaknainya sebagai kelurusan dan keikhlasan. Al-Baghawī merangkumnya dengan indah sebagai sikap kecenderungan yang mantap kepada kebenaran serta keteguhan untuk berjalan di atasnya.

Penegasan tentang fiṭratallāhillatī faṭaran-nāsa ʿalayhā menjelaskan bahwa karakter bawaan manusia diciptakan di atas fondasi tauhid. Al-Ṭabarī menguraikan bahwa kata fiṭrah berfungsi sebagai mafʿūl muṭlaq yang mempertegas bahwa Allah ﷻ telah menanamkan potensi keislaman pada setiap jiwa sejak awal penciptaan dari Nabi Adam.

Pendapat ini diamini oleh Al-Baghawī sebagai pandangan mayoritas mufasir, yang juga mengetengahkan hadis shahih riwayat Abu Hurairah tentang setiap bayi yang terlahir di atas fitrah sebelum akhirnya dibentuk oleh pengaruh lingkungan kedua orang tuanya. Ibn Katsīr memperkuat argumentasi ini melalui hadis qudsi yang menyatakan bahwa hamba-hamba Allah ﷻ diciptakan dalam keadaan ḥunafāʾ (lurus), namun godaan setanlah yang memalingkan mereka.

Al-Saʿdī menambahkan bahwa Allah ﷻ telah menanamkan dorongan intuitif dalam akal dan hati setiap manusia untuk mengenali kebaikan, menyukai kebenaran, serta membenci keburukan, yang menjadi hakikat terdalam dari fitrah itu sendiri.

Mengenai klausa lā tabdīla li-khalqillāh, terdapat dinamika penafsiran di kalangan para ulama. Ibnu Katsīr memaparkan dua sudut pandang utama: pertama, bentuk kalimat berita (khabar) yang bermakna larangan (ṭalab), yaitu arahan agar manusia tidak mengubah fitrah suci yang telah Allah ﷻ tetapkan; kedua, kalimat berita yang bermakna literal bahwa Allah ﷻ menyamakan seluruh manusia dalam watak asal yang lurus tanpa perbedaan saat dilahirkan.

Al-Shanqīṭī memperdalam pendapat pertama dengan analisis kebahasaan, menegaskan bahwa kalimat berita di sini berfungsi sebagai kalimat tuntutan (insyāʾ). Hal ini mengisyaratkan suatu larangan keras agar manusia tidak mengganti fitrah tauhid dengan kekufuran akibat pengaruh setan, sehingga ketetapan tersebut harus dipatuhi seolah-olah merupakan kepastian yang tidak bisa ditawar.

Ayat ini ditutup dengan kalimat dzhālikad-dīnul-qayyim wa-lākinna aktsaran-nāsi lā yaʿlamūn, yang menguji kesadaran manusia akan kebenaran hakiki. Al-Ṭabarī menyebutkan bahwa al-dīn al-qayyim adalah agama yang lurus dan sempurna, yakni jalan ketaatan murni yang diperintahkan Allah ﷻ untuk ditegakkan.

Kendati demikian, kenyataan bahwa mayoritas manusia tidak mengetahuinya dijelaskan oleh Al-Saʿdī sebagai akibat dari masuknya faktor-faktor eksternal yang merusak kebersihan fitrah mereka. Penyimpangan dari jalan lurus ini bukanlah bawaan asli manusia, melainkan bentuk pencemaran terhadap potensi suci yang seharusnya dijaga dan dikembangkan.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 12 September 2026
Imsak
04:23
Shubuh
04:33
Dhuhur
11:53
Ashar
15:07
Maghrib
17:54
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan