Sekjen PKS Soroti Potensi Syariah dan Wakaf Rp2.000 Triliun Belum Optimal
Ahmad zuhdi
Kamis, 30 Juli 2026 - 11:33 WIB
Sekjen PKS Soroti Potensi Syariah dan Wakaf Rp2.000 Triliun Belum Optimal
Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid, menyampaikan pandangannya mengenai peran strategis ulama dan potensi besar ekonomi syariah di Indonesia dalam gelaran Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Ke-VIII yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini.
Dalam pemaparannya, Sekjen PKS tersebut membeberkan ironi besar yang dialami Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, yakni mencapai 87 persen atau sekitar 245 juta jiwa. Meskipun memiliki ceruk pasar yang sangat besar, pangsa pasar industri keuangan syariah nasional saat ini baru berkisar di angka 10 hingga 11 persen.
Tak hanya itu, Kholid juga menyoroti potensi raksasa aset wakaf di Tanah Air. Indonesia tercatat memiliki tanah wakaf seluas 57.263 hektare yang tersebar di lebih dari 440 ribu lokasi, dengan estimasi nilai mencapai Rp2.000 triliun atau setara 52 persen APBN 2026. Namun, sekitar 60 hingga 70 persen dari aset raksasa ini masih berstatus non-ekonomi dan durasi penggunaannya belum produktif atau sekadar menjadi 'tanah tidur'.
Kholid mengidentifikasi tiga penyebab utama mengapa potensi besar tersebut belum teroptimalkan. Pertama, tingginya gap antara tingkat literasi (43,42%) dan inklusi keuangan syariah (13,41%). Kedua, cakupan kebijakan (scope) yang dinilai terlalu sempit.
“Kebijakan saat ini ibarat bermain di meja Pingpong (hanya fokus sertifikasi halal), padahal realitanya seluas lapangan basket yang mencakup rantai pasok, manufaktur, fesyen, farmasi, hingga wisata,” ungkapnya.
Faktor ketiga adalah belum adanya 'satu nahkoda' atau orkestrator yang mengintegrasikan berbagai lembaga syariah. Jika dikelola dengan amanah dan profesional, ekonomi syariah dan aset wakaf dinilai mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Baca Juga:Iran Tuntut Tanggung Jawab Ukraina Usai Menyerang Kapal Lalu Menyebutnya Tidak Sengaja
Dalam pemaparannya, Sekjen PKS tersebut membeberkan ironi besar yang dialami Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, yakni mencapai 87 persen atau sekitar 245 juta jiwa. Meskipun memiliki ceruk pasar yang sangat besar, pangsa pasar industri keuangan syariah nasional saat ini baru berkisar di angka 10 hingga 11 persen.
Tak hanya itu, Kholid juga menyoroti potensi raksasa aset wakaf di Tanah Air. Indonesia tercatat memiliki tanah wakaf seluas 57.263 hektare yang tersebar di lebih dari 440 ribu lokasi, dengan estimasi nilai mencapai Rp2.000 triliun atau setara 52 persen APBN 2026. Namun, sekitar 60 hingga 70 persen dari aset raksasa ini masih berstatus non-ekonomi dan durasi penggunaannya belum produktif atau sekadar menjadi 'tanah tidur'.
Kholid mengidentifikasi tiga penyebab utama mengapa potensi besar tersebut belum teroptimalkan. Pertama, tingginya gap antara tingkat literasi (43,42%) dan inklusi keuangan syariah (13,41%). Kedua, cakupan kebijakan (scope) yang dinilai terlalu sempit.
“Kebijakan saat ini ibarat bermain di meja Pingpong (hanya fokus sertifikasi halal), padahal realitanya seluas lapangan basket yang mencakup rantai pasok, manufaktur, fesyen, farmasi, hingga wisata,” ungkapnya.
Faktor ketiga adalah belum adanya 'satu nahkoda' atau orkestrator yang mengintegrasikan berbagai lembaga syariah. Jika dikelola dengan amanah dan profesional, ekonomi syariah dan aset wakaf dinilai mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Baca Juga:Iran Tuntut Tanggung Jawab Ukraina Usai Menyerang Kapal Lalu Menyebutnya Tidak Sengaja