MUI: Hubungan Dialogis Guru-Murid Tidak Boleh Luntur Akibat Algoritma Digital
Ahmad zuhdi
Sabtu, 01 Agustus 2026 - 09:21 WIB
MUI: Hubungan Dialogis Guru-Murid Tidak Boleh Luntur Akibat Algoritma Digital
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berpotensi menggerus tradisi keagamaan di Indonesia. Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi, menegaskan bahwa keautentikan sanad ilmu dan hubungan dialogis antara guru dan murid yang selama ini menjadi fondasi keislaman Nusantara tidak boleh sampai luntur akibat dominasi algoritma digital.
Hal tersebut disampaikan Kiai Masduki saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan workshop bertajuk "Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI" yang diselenggarakan Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta baru-baru ini. Menurutnya, perkembangan AI saat ini telah bertransformasi dari sekadar pembuat teks atau gambar otomatis menjadi AI Agent yang mampu merencanakan dan mengeksekusi keputusan secara mandiri.
Kiai Masduki menggarisbawahi perubahan tren generasi muda yang kini cenderung memburu jawaban dan ekspresi keagamaan melalui simulasi avatar serta rekomendasi sistem algoritma. Fenomena ini memicu lahirnya echo chamber atau ruang gema, di mana audiens hanya mengonsumsi wacana keagamaan yang sesuai dengan preferensi pribadi tanpa melalui proses verifikasi (cross-check).
"Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI avatar dan algoritma," kata Kiai Masduki dikutip laman resmi MUI, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan bahwa situasi ini sangat mengkhawatirkan jika lembaga keagamaan memilih bersikap pasif. Menurutnya, pergeseran budaya tersebut berisiko merusak tatanan keilmuan Islam yang selama ini dijaga erat oleh para ulama.
"Ini sangat berbahaya karena sistem sanad kita, tradisi belajar guru dan murid, bisa dihancurkan oleh sistem digital jika kita pasif," kata Kiai Masduki menegaskan.
Baca Juga:Pembatasan Penggunaan Gawai di Sekolah, Hidupkan Interaksi Langsung Sesama Murid
Hal tersebut disampaikan Kiai Masduki saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan workshop bertajuk "Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI" yang diselenggarakan Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta baru-baru ini. Menurutnya, perkembangan AI saat ini telah bertransformasi dari sekadar pembuat teks atau gambar otomatis menjadi AI Agent yang mampu merencanakan dan mengeksekusi keputusan secara mandiri.
Kiai Masduki menggarisbawahi perubahan tren generasi muda yang kini cenderung memburu jawaban dan ekspresi keagamaan melalui simulasi avatar serta rekomendasi sistem algoritma. Fenomena ini memicu lahirnya echo chamber atau ruang gema, di mana audiens hanya mengonsumsi wacana keagamaan yang sesuai dengan preferensi pribadi tanpa melalui proses verifikasi (cross-check).
"Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI avatar dan algoritma," kata Kiai Masduki dikutip laman resmi MUI, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan bahwa situasi ini sangat mengkhawatirkan jika lembaga keagamaan memilih bersikap pasif. Menurutnya, pergeseran budaya tersebut berisiko merusak tatanan keilmuan Islam yang selama ini dijaga erat oleh para ulama.
"Ini sangat berbahaya karena sistem sanad kita, tradisi belajar guru dan murid, bisa dihancurkan oleh sistem digital jika kita pasif," kata Kiai Masduki menegaskan.
Baca Juga:Pembatasan Penggunaan Gawai di Sekolah, Hidupkan Interaksi Langsung Sesama Murid